Dear Soobin: Soobin, uang dan kebahagiaan orang lain
Dia kembali lagi.
Kau liat foto lelaki di atas? Iya, namanya Soobin. Kamu tau, aku mati-matian menguburnya dengan cara menyibukkan diri dengan dunia nyata, dengan hobi yang terus aku asa. Namun, dengan entengnya dia muncul kembali.
Aku mengalami banyak masalah dalam kehidupan nyata ini. Rasanya memang lebih mudah jika aku tidur dan tidak usah bangun lagi tapi itu mengerikan. Aku tidak ingin itu terjadi, aku masih punya banyak dosa.
Di usiaku yang menghampiri 1/4 abad ini, aku terus merasa kesepian, ada ketakutan di tinggalkan, ketakutan akan sendiri selamanya.
Ada beberapa hal yang aku pikirkan tiap kali Soobin datang. Datang dalam hayalan ku maksudnya.
Aku berpikir, apakah hidupku akan jauh lebih enak jika dulu aku menerima lamaran orang itu? Apa aku akan hidup bahagia sebagaimana teman-temanku yang sudah menikah?
Kau bisa jalan ke mall bareng anak dan suami. Main, di beliin hp baru, tinggal di rumah impian, makan makanan yang enak. Terlihat menyenangkan.
Aku selalu berpikir begitu. Secara nggak langsung aku sadar, aku butuh uang. Aku ingin beli makanan dengan uang itu, beli alat lukis dengan uang itu, beli buku dengan uang itu. Beli semua barang yang aku suka.
Aku butuh uang.
Ku rasa aku juga butuh soobin. Maksudku, sepertinya aku butuh orang, setidaknya satu saja disisiku. Mendengar ceritaku.
Tak perlu romatis-romatinsan lah yah. Cukup duduk diam, dengar, pahami. Itu sudah membuatku senang. Sialnya, aku selalu dapat orang mesum.
Aku tidak tau, apa semua lelaki seperti itu?
"Soobin, apa kau mesum. Suka merabah bokong perempuan?" Entah, hanya dia yang tau.
Aku benci sekali lelaki yang berpikir kita menyukainya, mereka terlalu kegeeran. Aku suka berbicara karena aku merasa di dengarkan. Aku tau ada kata-kata yang mengatakan, perempuan akan nyaman dan menyukai lelaki seperti itu.
Harus aku akui, aku suka tapi suka saja. Nyatanya mereka—para lelaki kegeeran itu menganggap kita(saya) berlebihan.
"Oh perempuan itu suka aku, makanya sikapnya begitu. Nampak sekali, dasar murahan."
Aku ingin sekali menampar mulutnya, apa lagi jika dia sudah masuk tahap mempermalukan orang lain.
Aku pernah di posisi itu, aku hanya ingin bertemu sebagaimana aku dan teman-temanku tapi aku malah di anggap posesif terhadapnya. Pemaksa, katanya.
Untuk itu aku tidak ingin terlalu dekat, terbuka dan penasaran terhadap lawan jenis. Aku selalu dapet getahnya. Sialan.
Aku harap mereka di kutuk.
Kembali ke Soobin. Aku jelas menyukainya, tapi aku tidak begitu peduli toh dia tidak mengenalku. Aku hanya suka dia, Soobin yang ada di kepalaku.
Aku ingin mengusirnya tapi kasihan juga.
Aku bertanya, apa aku sudah terlalu stress sampai soobin kembali kehadapanku?


Komentar
Posting Komentar