Dear Soobin: Hujan


Dear Soobin, 
Kadang aku benci kalau dia datang tapi beberapa bulan ini aku malah merindukannya. Ini bukan tentang dia yah, tapi hujan.

Aku nggak tau kapan tepatnya musim kemarau disertai suhu panas ini dimulai. Aku mengalami ketakutan lantaran pikiranku hanya mengarah ke satu tempat. Kematian.

Aku pikir hidupku benar-benar akan hancur, aku membayangkan ribuan orang orang meninggal karena cuaca panas. Tidak ada air. Sumber air semuanya mengering, listrik tidak bisa digunakan lagi lantaran pembangkit listrik yang digunakan adalah air. 

Sebegitunya kita butuh air. Air yang kadang aku sendiri tidak peduli. Aku selalu bersikap seolah air tidak akan pernah habis padahal musuh terbesarku selalu ada di belakanganku. Kemarau. 

Aku pikir, aku benar-benar akan mati. Impianku akan sia-sia. 

Pikiranku negatif.
Ditambah kebakaran marak terjadi. Masalahnya, Orang-orang lebih suka membakar sampah. Terciptalah mimpi buruk ku yang lain


Aku kadang mikir, kok pikiranku seperti ini? Terlalu aktif dan berlebihan. Diamku bukan berarti diam sesungguhnya. Otakku terus bicara, entah menerka apa. Sesuka hatinya.

Kembali ke konteks. 

Soobin, hujan akhirnya datang. 
Kilatan petir mulai hisa aku lihat dan nikmati di langit malam. Seperti kembang api. Percikan harapan. Kehidupan telah kembali.

Apa aku tidak takut? 
Aku takut pada awalnya, jangan sampai hujan ini membawa banjir besar atau sebagainya yang dampaknya sama dengan musim kemarau, membawa kehancuran. 

Aku tidak menyalahkan hujan badai angin ribut halilintar yah. Kemarau pun tak aku salahkan. Ku rasa mungkin ini sudah takdir Tuhan. Ini juha akibat yang manusia timbulkan sendiri. Jadi sudah sepatutnya terjadi...

Aku terpikir untuk mengubah atau menjadi kaum yang ikut membantu dalam memperbaiki bumi ini. Aku tidak tau harus mulai dari mana. Mu gkin mengolah sampah dengan baik itu tidakan yang tepat. Mengompos dan berkebun. Itu terdengar menyenangkan walaupun.. Kau tau, tanaman jarang tumbuh jika aku merawatnya.

Bagaimana kalau aku mencoba mantra ajaib. Mengatakan hal positif tiap hari supaya tanamanku tumbuh. Ehehe aneh yah. Aku memang aneh. Salah, aku unik.

Dear Soobin. Aku senang hujan bisa datang, sedikit demi sedikit membasahi tanah dan atap rumahku. 

Aku rindu dengan suara guntur bergemuruh seolah ingin meruntuhkan langit di atas kepalaku. Lucu yah.

Dear soobin, apa kau suka main hujan? Aku suka. 

Kau tau, aku pernah menerobos hujan saat pulang sekolah. Bukan karena aku takut dimarahi ibu pulang telat 5 menit— ibu ku memang setegas itu, telat 1 menit pulang saja dia hitung. Makanya aku jadi seperti ini. 

Aku menerobos hujan yang menakutkan bagi orang-orang karena aku ingin basah saja. Aku ingin menari di bawahnya. Aku harap suatu hari nanti aku bisa menari di bawah hujan bersamamu. 

Iya, itu seperti mimpi di siang bolong memang, tapi aku senang memikirkan itu. Entah suatu hari nanti aku hujan-hujanan sama siapa, aku sudah senang. Bahkan jika aku sendiri pun aku senang. 

Aku suka menantap langit. Aku tidak tau kenapa. Aku pikir, mungkin suatu saat dia akan hilang. Itu menakutkan. 

Aku bersyukur ada HP, aku bisa memotret langit, tumbuhan dan lain sebagainya sesuka hatiku. Aku harap dengan begitu aku bisa mengenangnya kapan pun. 
Aku tau, kapasitas HP ku kecil jadi tetap harus ada tempat arsip lainnya. 

Hadeh, di segala kemudahan pasti ada kesulitan yah.


......


Amalia untuk Soobin,
Thursday, October 19th '23

Komentar

Postingan Populer