[Review buku sambil curhat] Kalis Mardiasih-Muslimah Yang Diperdebatkan


"Belajar emang sulit dan enggak semua bisa paham, tapi seenggaknya, jangan pura-pura tuli dan sengaja menutup mata." (Muslimah yang Diperdebatkan, hlm. 78) 

Apa sih yang perlu dipertanyakan tentang muslimah, khususnya muslimah di indonesia? Toh tidak ada masalah, baik-baik saja. Semua perempuan bebas berkerudung karena memang itu harus sebagai penganut agama islam. 

Terus ada apa dengan produk halal? Gak salah kan? Untuk menjamin keamanan produk bebas dari bahan yang gak halal? Iya kan? Terus masalahnya dimana?
Deretan pertanyaan entah rasis atau masa bodo, entahlah. Terlintas di pikiran saya saat pandangan pertama dengan buku ini. Siapa pula itu Kalis Mardiasih? Aduh.

Buku ‘Muslimah Yang Di Perdebatkan’ berdampingan dengan buku karya Kalis Mardiasih yang lain, “hijrah jangan jauh-jauh nanti nyasar” teriak buku itu seolah-olah meledek saya. Seolah saya adalah muslimah yang salah jalan hijrahnya. Walau saya tidak berpikir sedang hijrah, tapi sungguh saya di usik oleh kedua buku itu. 

Sebagaimana gambaran saya tentang hijrah, mereka yang hobi berbuat dosa baik kecil ataupun besar kemudian diberi jalan hijrah. Ciri khas hijrah bagi perempuan biasanya doyan ceramah sana-sini, mengkutuki perempuan yang berbeda darinya. Seperti saya contohnya. Upss sorry maksud saya mereka lebih mengerti agama, ibadahnya terjaga dan always berdoa pada Allah SWT.

Ok, Gaya berpakean saya saat berbelaja di toko buku—celana panjang training gobrong, baju kaos lengan panjang hampir menutupi jari-jari tangan, jilbab panjang sampai di tengah paha dan terakhir sandal jepit andalan tanpa kaos kaki, yang bakan jadi sasaran empuk mereka yang suda cari kesalahan orang lain “maaf sekedar mengingatkan, auratnya keliatan.” 

Penampilan dengan cap “Aneh banget” ujar temanku di kampus tiap kali aku lewat dengan busana seperti itu. Bahkan tak jarang pula dosen berkomentar bahkan tertawa dengan penampilanku—ok, gue emang salah gak taat peraturan kampus tapi ayolah, gue nyaman dengan itu semua. 
Berhentilah mengatur orang lain.

 Saya sadar tampilan seperti itu tidak mencerminkan muslimah yang sesungguhnya, perempuan muslim yang mereka gambarkan tidak ada dalam diri saya. Lantas megapa?  Saya nyaman dengan pakean saya. Btw, apa sih itu muslimah? Apa benar muslimah adalah perempuan beragama islam, memakai jilbab panjang sampai menutupi dada, menundukkan pandangannya, pake rok, baju gobrong, dan selalu tinggal dirumah, taat beribadah? Begitukah?
Pertanyaan baru mencuat, akhirnya kuseret buku muslimah yang diperdebatkan ini—padahal saya jauh-jauh ke makassar buat beli buku ‘Pelacur Itu Datang Terlambat’. Gegara buku mbak Kalis yang nyinyir itu saya jadi beli deh. Tapi saya gak nyesel sih. 

Setelah beli buku, saya mampir dulu makan bareng sohib saya dari SMP dia kuliah di Makassar. Sore itu hujan, jadi kita mampir makan ayam gebrek dulu sampil nunggu hujannya reda sambil liat cowo-cowo ganteng kehujanan. Hehehe... itu gak salah kan? Toh nanti saya nikah dengan lelaki. 

Setelah saya buka, sumpah saya heran isinya keg gini.
 Saya kira saya akan di khutbah habis-habisan dengan beribu bahkan berjuta-juta ayat yang jujur, bikin mata saya perih—bukan saya gak suka kalo banyak ayat dan hadist hanya saja saya ngerasa sedang di kutuki sesuatu, sesuatu entah makhluk apa yang mengangap dirinya benar dan berhak menghakimi saya. Yang pasti bukan Tuhan. 

Buku Mbak Kalis tidak mengajarkan saya menjadi muslimah yang di gambarkan oleh teman-teman hijrah, tidak mengajarkan saya tutorial jilbab hits pula, apa lagi menyakinkan saya untuk dipoligami. Mbak Kalis juga tidak mengiring saya menolak ajaran islam, tidak mengiring saya untuk membenci sodara seagama bahkan tidak mendorong saya pula menolak poligami. Dia membiarkan saya memilih, dengan cara membuka mata saya. Open your eye.

Di bagian awal dia menulis “ buku ini saya persembahkan untuk ibu, ibu, ibu dan semua perempuan yang tetap tegar meski sulit.” Pertanyaan kembali mencuat di kepala saya. 

Saya menyakini tulisan itu diperuntukan bagi perempuan yang mengalami kasus kekerasan, pelecehan maupun pemerkosaan. Atau untuk ibu-ibu rumah tangga yang terus sabar meski mendapat penyiksaan oleh sang suami. Dengan iming-iming “sabar, nanti suami mu berubah.” Saya jadi benci kata sabar. 
Di buku ini Mbak Kalis ikut membahas masalah kekerasan yang di alami Nyi Putu Kariani yang disiksa oleh sang suami sampai kakinya dipotong. Dan beberapa kasus lainnya yang bikin saya  kesel sekesel keselnya.

Selain itu fenomena yang meganggap bahwa ketika seorang perempuan tidak menutup auratnya dengan benar mereka rentan terkena pelecehan seksual padahal orang yang tertutup pun juga bisa.
Tapi saya gak bakalan bahas itu lebih lanjut, saya kan hanya nge-review.

Buku ini dibuka dengan bab “Curhatan Girl Band Hijab Syar’i” dia gak bahas girlband tentu saja tapi membahas fenomena hijrah zaman sekarang. Yang kayangnya saya juga termasuk.

Sejak awal masuk sekolah menengah atas saya disambut dengan beraneka ragam ciri khas perempuan (muslimah) dari kewajibannya menutup aurat, menjaga pandagannya, menjaga jarak dangan laki-laki—walau di jam istirahat kerja saya beku hantam dengan teman lelaki. Dan saya tidak mempermasalahkan itu

Saya dibesarkan orangtua dengan segala kebebasannya. Saya dibebaskan memilih jalan saya sendiri, mau sekolah dimana terserah saya, mau lanjut kejenjang yang lebih tinggi silahkan, mau berhenti juga silahkan. Tidak ada masalah. 

Saya kira prinsip kebebasan(sebenarnya gak bebas bebas banget sih) yang diberikan orang tua saya berlaku disetiap anak perempuan di muka bumi ini,nyatanya tidak. 
Ada sebagian dari mereka yang terpaksa mengenakan jilbab kesekolah karena itu peraturannya, perempuan non-muslim pun diwajibkan berjilbab, seperti disekolah saya. 
Saya tidak mengkritik apa mereka nyaman dengan itu atau tidak. Bagi saya itu peraturan dan harus di patuhi. “loh, salah sendiri. Siapa suruh masuk sekolah islam.” Ujar saya saat upacara bendera di hari senin.

Saya tau, kebijakan mengenakan jilbab bagi non-muslim justru akan mengubur identitas mereka secara nyata. Sayangnya, saya tidak peduli.
Lain halnya setelah lulus SMA, saya lanjut ke perguruan tinggi bernuasa islam dengan jilbab yang berbeda pastinya. Saya mengenakan jilbab panjang sampai tengah paha. Masyaallah banget kan gue.  Disana kebebasan saya mulai terusik. Maskulinitas saya dipertanyakan. Hal yang tidak pernah dipermasalahkan satu oranpun dikeluarga saya. 

“Seorang perempuan muslim katanya, berjilbab panjang tapi suka korea, teriak-teriak liat lawan jenis, makannya sambil ngobrol, suaranya keras saat berbicara, bergaul dengan lelaki sana sini.  Jalannya ngangkak, pake pakean lelaki, dan pernak-pernik kelaki-lakian pula.’’ Gue muak. 

Emang apa salahnya berpakean seperti lelaki, jalan ngangkak seperti lelaki? Emang kenapa kalo saya melakukan itu? Toh saya tetap beragama islam, Saya tetap perempuan. Dan saya nyaman dengan hal itu. 
Dan lagi-lagi saya tidak protes, yang merendahkan diri, saya terpuruk luar biasa atas perbedaan sesama muslimah ini. hanya karena pakean dan gaya saya. Astaga.  

Ada beberapa faktor kenapa saya tunduk, diam tapi tidak mengiyakan ataupun mengikuti. Saya tetap mempertahankan maskulinitas saya.
Pertama, “ketika perempuan mulai bicara, ia dihadang dengan hierarki berlapis. Hierarki yang berat bisa datang dari seorang lelaki tokoh agama yang merupakan lulusan ilmu agama dari unuversitas tersohor.” Ini saya kutip dari prolog buku Muslimah yang diperdebatkan.

"Orang yang berbicara, menyemprotakan ayat dan hadist kemuka saya adalah mereka yang memiliki jabatan tinggi, sudah terkenal dengan pemahaman agama yang luar biasa, dari keluarga terpandang baik agamanya dan pendidikan tinggi selangit."

Saya sadar diri, ayah saya lulusan SMK, ibu saya belum lulus SMP udah dinikahin. Kakek dan nenek sayapun seperti itu. Keluarga saya dipenuhi orang-orang tidak berpendidikan. Tapi orangtua saya punya nilai kemanusiaan yang tidak dimiliki setiap mahkluk bernama manusia dimuka bumi ini. Masih banyak tuh orang berpendidikan tapi jadi pelaku pelecehan seksual.
Kedua, bukan hanya lelaki tetapi sesama perempuan yang lahir dari perempuan yang beragama islam pun membuat saya luluh. 
Saya menghormatinya sebagai perempuan. Saya pikir mereka mengerti sebagai sesama perempuan, nyatanya tidak. Dia hanya ingin menjadikan saya tanah yang kemudian ditanami nilai-nilai yang ia anut. Nilai yang jelas tak tepat untuk saya.

Saya tidak bisa menjaga jarak dengan teman lelaki—saya nyaman bercengkramah dengan mereka, mereka(lelaki) punya pemikiran dan pandangan berbeda dengan saya, tak salahkan jika saya bergaul dnegan mereka? Lagi, saya tdak bisa mengecilkan suara saya karena memang sudah seperti itu. 
Saya lahir didaerah berciri khas dengan suara keras dan agak kedengeran kasar saat bicara, tapi itulah kami. Jika ditanamkan dengan nilai-nilai keislaman seperti harus menundukkan pandangan dan mengecilkan suara saat berbicara(karena katanya suara adalah aurat) mati deh gue yang hobinya teriak kek penyanyi rock. 

Saya nyaman mengenakan pakean lelaki karena longgar. Mengenakan sepatu lelakipun tidak ada masalah bagi saya, toh kaki saya tidak lecet karenanya dibandingkan harus mengenakan high heels atau sepatu-sepatu berbau perempuan. Saya nyaman memakai celana panjang walau memakai jilbab panjang, itu membuat saya lebih nyaman bergerak. 

“So, kalo kalian nyaman dengan semua ciri khas muslimah silahkan, tapi jangan coba terapkan itu pada saya.”

Tapi gak semua kok, belakangan ada perempuan bercadar yang saya temui tidak memandang remeh perempuan yang berproesi sebagai pelacur ataupun perempuan-perempuan yang di anggap pezina. Gue tau ini kedengeran aneh, tapi iya bukankah ada yat yang mengatakan “pezina, pencuri itu lebih baik dari pada orang yang tidak sholat’” lebih-lebih lagi orang yang uska makan bangke saudaranya sendiri. Ihhh.

Banyak dari mereka sepemikiran dengan saya, menolak poligami. Sebagaimana sering di peromosikan oleh beberapa pihak mengenai poligami. Katanya sih, semua pintu akan terbuka jika perempuan mengisinkan suaminya berpoligami? Masa sih? Bukan kah masih banyak cara yah buat masuk surga, yang pasti bukan dengan menyakiti hati perempuan.

Di bab awal mbak kalis menceritakan masa kecilnya sebagai anak yang terlahir dari keluarga islam dengan membandingkan anak ukhti-ukhti yang baru melahirkan udah di pakein jilbab. Hal tidak pernah saya pusingkan, loh kenapa emang kalo anaknya di pakein jilbab? bahkan saya berpikir hal yang sama mengajarkan anak menutup aurat sejak lahir. Aduh pikiran macam apa itu. Saya tidak pernah peduli apakah anak itu kepanasan, meronta rontah bahkan sampai nangis. “Saya tidak peduli, itu bukan urusan saya, itu anaknya dia.” Kata-kata dari manusia yang mengaku dirinya pecinta kebebasan. Shitlah.

Mbak Kalis pun membahas bagaimana perempuan yang tidak mengenakan jilbab dianggap bukan muslimah, sebagaimana saya dulu yang berjilbab mengangap dirinya sholeha, ngerti agama karena datang ke pengajian, dengerin ceramah, baca al-qur’an dan melaksanakan sholat baik wajib maupun sunnah. Sayapun memandang saudara seagama saya seperti itu. “kalo loh gak pake jilbab berarti loh bukan muslim.” Anjing banget lah gue.

Saya teringat sewaktu mengenakan jilbab disetiap aktivitas tanpa berniat melepasnya, saat saya tidurpun mengenakan jilbab. Bayangkan,untung saya gak mandi pake jilbab. Ibu saya sampai risih ngeliat saya, tapi saya tetap tegar dan berusaha mempertahankannya. Itu tidak salah, salah saya adalah julit. Kata paling saya benci pernah melekat dalam diri saya tanpa sadar. Yang jadi korban julit saya tentu perempuan-perempuan yang tidak mengenakan jilbab seperti saya. “astagfirullah aurat.” Ujar saya setiap kali berpapasan dengan sesama perempuan.

Perasaan saya seperti sudah berada di jalan yang benar, sudah hijrah, dan sudah jadi muslimah yang baik. Saya lupa satu hal, ibu, nenek, tante dan adik perempuan saya tidak mengenakan jilbab tapi mereka tetap muslimah bukan? Iya mereka muslimah.

Islam menjarkan perempuan untuk menutup aurat, tapi islam juga mengajarkan kita toleransi bukan? Buku “Muslimah Yang Diperdebatkan’’ memberi saya pemahaman baru pasal toleransi sesama umat beragama.

apa enaknya sama jika Tuhan saja segaja menciptakan manusia berbeda-beda," (Muslimah yang Diperdebatkan, hlm. 91)

Mau pake jilbab sampai betis, menutup sampai dada, atau sekedar menutup kepala bahkan tidak mengunakan jilbab sama sekali kalian tetap islam. Kita tetap muslimah.

Bukan hanya permasalahan hijrah dan jilbab yang di bahas dibuku ini, mbak Kalis pun ikut menyinggung pengunaan logo halal maupun syar’i disetiap produk non-makanan seperti make-up, shampoo bahkan jilbab—lebih paranya iming-iming syar’i di lekatkan pada obat penis kuat?  jijik saya tuh. Ihhh..
Maksudku untuk apa sih logo halal itu? Emang BPOM gak cukup? Toh yang terpenting produk yang diperjual belikan memenuhi standar kesehatan gitu, maksud saya gak ada racunnya. 

Pemberian logo halal haram justru memberi ketakutan tersendiri, jika ada produk halal berarti ada produk haram dong? 
Saya pun merasa tidak berdaya tiap kali makan, ngerasa insecure kalo makan pentol yang di bikin mas-mas yang lewat depan rumah atau  abang-abang yang sering nangkring tiap sore di depan kampus. Ini halal gak yah? Di grobaknya gak ada logo halal lagi?

Belum lagi, sahabat saya yang beragama kristen, tiap kali ada acara, tiap dia pulang kampung selalu bawain kita ke empat kawannya yang beragama islam ini kue ataupun pernak-pernik khas daerahnya. Jelas makanan dan barang itu gak ada logo halal dan syar’i nya. Terus gimana dong? Gak enak dong saya gak makan, gak enak dong kalo saya tolak? Dia kan sahabat saya. Gak bai juga lohnolak rejeki.
Lagian sewaktu zaman nabi, setau saya gak ada tuh yang kek gitu-gituan, nabi dan sahabat-sahabatnya baik-baik aja. 

Nabi juga gak pernah tu ngasih iming-iming syar’i di jilbab istrinya. Kok kita umatnya malah kek gini?
Toh dalam islam kan yang dilarang minum minuman keras(beralkohol), makan babi dan anjing. Lah kan saya Cuma makan pentol sama kue, emang salah yah? Gak ada logo halanya loh. hihihi

Gue tau temen gue kristen, terus sahabanya nabi orang islam, terus masalahnya dimana? Kan mereka sama-sama manusia. Temen gue yang kristen juga ngehargai kita temen-temennya yang islam, dia bahkan gak makan babi, anjing apalagi makan hati saudara sendiri. Dia bahkan hafal surah pendek, loh kalian yang ngaku islam, apa kabar? Yang kerjanya ngitungin dosa saudara sendiri, yang ngecap orang khafir bahkan gak beriman. Ihh...
Makin lama, makin gak waras yah.

Simbol islamisasi seperti halal dan syar’i digunakan untuk menarik konsumen pasar khususnya yang beragama islam, sebagaimana penganut agama islam termasuk terbanyak didunia. Ditambah dengan fenomena hijrah yang dilangengkan oleh artis-artis yang tiba-tiba langsung kerudungan kalo ada kasusnya.... bla bla bla..
Serius, gue gak mau nyinyir sekarang.

Kalian bisa amati di televisi atau kalo kalian nonton iklan youtube, biasanya ada tuh yang nyodorin logo halal ke masyarakat(bukannya produknya yang dipermosiin tapi logo halal nya). Hahaha. Logo halal digunakan untuk menyakinkan konsumen kalo produknya gak haram.

Sebetulnya masih banyak lagi yang di bahas di buku muslimah yang di perdebatnkan ini, saya hanya membahas hal-hal yang sederhana saja. Kali bisa baca bukunya untuk lebih memperjelas.
Masih banyak topik lain dibuku ini yang bisa menambah kualitas berpikir kalian dalam memandang islam jaman sekarang khususnya muslimah. 

Selain Muslimah Yang Diperdebatkan ada buku ‘Hijrah Jangan Jauh-Jauh nanti Nyasar’ sebagai tambahannya.
Buku ini sebagai rekomendasi kalian yang ngerasa dirinya udah bener dalam beragama kek saya. 
Jumlah halaman buku ini kurang lebih 212 halaman. Gampang buat di baca karena Mbak Kalis nulis essai kek ngedongeng, alias sedep banget di baca. Hehehe.

Itu aja sih reviewnya.
Semoga kita selalu di lindungi Tuhan.
Terima kasih telah membaca.
Xoxo 
Amalia

Komentar

Postingan Populer