Dear Soobin: Aku akan selalu ingat, sebuah kejadian yang terus menghantuiku.

Ada moment yang tidak pernah bisa aku lupakan, dan itu terus melekat dalam diriku. Membuatku terpuruk setiap saat. 

Apa kau juga pernah merasa seperti itu Soo?

Dear Soobin,
Aku akan mulai cerita ini saat undangan itu diberikan kepadaku. 
Soobin, sebelumnya aku ingin mengatakan padamu aku suka membaca buku bertema feminisme. Apapun itu. Aku suka. 

Aku pernah mereview salah satu buku, sebut saja buku E. Buku ini aku review di instagram, review mendapat perhatian dari penulisnya bahkan dijadikan sebagai panduan untuk mempromosikan buku itu. Aku senang. Hingga sebuah kesempatan muncul, seorang yang merupakan pendiri dari salah satu toko buku yang aku kenal mengundang ku menjadi pembicara. Tepatnya sesi untuk membahas buku itu.

Ini kali pertama sebetulnya aku membahas buku. Aku menerima tawaran itu dengan cepat, aku pikir mungkin akan seperti aku membahasnys dengan temanku. 
Apa lagi dia mengatakan itu diskusi santai, ingat Soobin dia bilang Santai. Aku pikir santai yang ia maksud sama seperti santai yang aku pahami. Itu kebodohan paling bodoh yang pernah ada.

Aku menerimanya, singkat kata aku mempersiapkan diri, menulis poin apa saja yang patut aku paparkan di sana, aku menambah sedikit bumbu-bumbu agar mereka tertarik untuk membacanya. Ku pikir semua akan berjalan sesuai dengan rencanaku. Ternyata rencana Tuhan yang berjalan.

Tibalah hari di mana aku tampil sebagai pembawa materi yang di beri nama di poster sebagai "pemantik". Lagi-lagi, arti pemantik milikku berbeda dengannya. Sebuah kekacauan yang..... Menyebabkan.

Aku datang lebih awal hari itu, aku berbincang dengan moderator yang akan mendampingi ku nantinya. Tau saja, dia juga belum pernah membaca bukunya. 
Ok, ok aku tau pasti kamu mikir, " Yah nggak apa-apa dong, kan bagus orang yang nggak tau bukunya bisa tertarik untuk baca." 
Aku juga mikir kayak gitu, cuman yang aku khawatirkan jangan sampai dia tidak tau yang sedang aku bahas apa, di bagian mana. Akhirnya malah muncul perdebatan yang tidak sesuai dengan isi buku. Ada hal yang hanya bisa di pahami ketika kamu baca buku itu.

Jika di pikir, jika hanya aku yang baca bukunya, bukankah itu namanya aku hanya akan berbicara sendiri, padahal inikah diskusi. Masa kau berdiskusi sesuatu yang hanya satu pihak yang tau? 

Ibaratnya, kau sedang bergosip. Iya diskusi buku itu aku anggap bergossip. Tentu kau harus tau siapa yang di gosip dan tau gosipnya kan? Coba pikir ketika kita sedang bergosip dan hanya aku yang tau, apa menurutmu itu bakal jadi diskusi atau hanya sekedar aku memberikan informasi? 
Ketika kita sama-sama tau, dalam hal ini sudah membaca bukunya otomatis kita bisa mengalih lebih dalam lagi.

Sayangnya di diskusi ini tidak seperti itu. Aku berakhir jadi kutu busuk. Mereka tidak ada yang pernah membaca bukunya. Hanya aku. 

Kau tau, aku orang yang terstruktur, aku punya pola yang harus di ikuti jelas ketika satu hal terjadi dan tidak sesuai dengan rencana... Booomm.. Selesailah aku.

Yang hadir di sana di dominasi laki-laki. Ada beberapa perempuan, dan aku tau mereka sangat disengani. Jujur aku merasa jadi orang bodoh di sana. Ok, akan aku jelaskan seperti apa situasinya.

Aku mulai dengan menceritakan bab demi bab di buku itu, kemudian membahas teori yang ada di sana, baik yang bertentangan atau tidak, dilanjutkan dengan bab terakhir yang membahas bagaimana perempuan yang terjebak dalam lingkungan patriarki. 
Yah, semua itu.. Semua celotehan ku berakhir jadi sampah. Angin lalu, kebingungan di mana-mana. 

Ini lebih menyakitkan dari dosen yang mengujiku saat sidang skripsi, setidaknya mereka—dosen penguji tersenyum padaku. 

Aku mengerti tatapan mereka, yang hadir hari itu seperti aku adalah orang terbodoh di dunia. Seolah mata mereka mengatakan seperti ini, 
"Sudah jelek, sok pinter lagi. TURUN SANA. BODOH." 

Aku mulai menjawab sebisaku dan pertanyaan terus menimpaku dan pada akhirnya aku menyerah. Aku ingin menangis detik itu juga. Yang lebih banyak berbicara justru si pemilik toko. 

Dia juga menyampaikan rasa kecewanya padaku. Tidak sesuai ekspetasi katanya. 

Aku ingin sekali marah, menangis hari itu. "Apa yang kau harapkan?" 
Aku tidak suka rait wajah seolah dia sudah melakukan kesalahan besar dengan memilihku sebagai pemantik. 

Dear Soobin, kau tau. Hari itu mereka memberiku buku. Kau tau, aku tidak pernah menyentuh buku itu padahal itu buku yang ingin sekali aku baca. Ingin aku miliki. 

Tapi tiap kali melihat buku itu, aku mengingat kejadian itu. Aku menangis. Setiap aku mencoba sesuatu, entah sesederhana bertemu orang dan mengobrol, itu membuat ku takut. 

Apa aku bisa? Apa aku tidak akan terlihat konyol? Apa orang akan mengerti aku bicara apa? Apa mereka akan melihatku dengan tatapan mata kebingungan? Atau malah buang muka dan tertawa di belakang? Dasar cewe bodoh. 


Aku takut, tapi aku tidak menyerah walau ingatan itu terus menghantui diriku. Menarik kakiku masuk ke lubang hitam. Lebih dalam lagi, terus seperti itu. Seperti efek yoyo. Sekali aku mengunakan kekuatan ku untuk keluar, dua kali lipat aku akan ditarik ke dalam lubang hitam itu.

Itu menakutkan. 


Dear Soobin, kejadian itu sudah terjadi satu tahun lalu dan aku belum melupakannya. Itu menyediakan. Aku tidak ingin bersikap sok kuat. Aku ketakutan. 

Mungkin aku butuh waktu lama untuk memulihkan diri. Aku tidak tau kapan aku akan lepas dari bayang-bayang kejadian itu.

Aku tau mungkin ketika kau terlihat di sana, anggap lah kau salah satu peserta. Mungkin kau anggap itu kejadian biasa saja tapi bagiku itu kejadian paling.... 

Aku tidak bisa melanjutkannya. 

Kau tau Soobin, aku hanya pernah membicarakan ini pada temanku. Aku tidak pernah mengatakan ini ke siapa pun. Aku bahkan tidak pernah menulis kejadian ini dalam dairy ku. 

Aku benar-benar terpukul. 

Aku ingin keluar, tapi... Sulit.

Dear Soobin, aku tidak membenci siapapun. Aku hanya membenci diriku. Aku terus mengoreksi diriku hari itu. 
"Ku rasa itu salahku." 

Kata temanku, "itu bukan salahmu. Pihak mereka juga salah." 
Temanku terus mengoceh, mencari apa yang diluar kendaliku dan tidak seharusnya aku pikirkan. Lagi lagi aku tidak bisa menyetujui apa yang ia katakan. Aku tidak bisa menyalahkan orang lain.

Aku merasa jadi manusia menyediakan karena itu. 

Mungkin itu kejadian yang harus aku hadapi. 

Soobin, haruskah aku lupakan kejadian itu dan anggap seolah itu tidak pernah terjadi? Atau mungkin bersikap seperti, "oh sudahlah, ambil pelajarannya aja." 
Iya, ambil pelajarannya aja tapi aku bersumpah tidak akan kesana lagi.

Aku tau ini terdengar konyol, kalau aku sudah ikhlas bukankah seharusnya aku tetap bisa kesana.. Iya, tapi aku ingin egois, aku tidak msu kesana. Karena... Itu yang bisa membuatku tenang.

Soobin, apa kau juga pernah mengalami kejadian seperti itu. Kejadian yang begitu berat untuk di cerita, tidak bisa kau lupakan bahkan butuh waktu bertahun-tahun untuk berdamai dengan kejadian itu? 

Dear Soobin, aku memandangmu sebagai lelaki yang tidak pernah memiliki kenangan buruk. Kehidupan mu selalu baik dimataku. Aku tau itu tidak benar. 

Komentar

Postingan Populer