Saya akan menikah, jika saya ingin
“Tua baru nikah tidak
apa-apa. Tidak baik memaksa anak menikah, nanti ada apa-apa dia yang kena
imbasnya.” Kata nenek siang itu. Saya menangis seperti orang bodoh
mendengar ucapan nenek.
......
Tanggal 1 Desember kemarin,
seorang laki-laki emh saya beri nama dia 11jt. Aneh? Nanti saya kasih tau
kenapa namanya seperti itu.
11jt ini datang kerumah
malam itu, bersama saudara nenek saya serta anggota keluarga yang lain.
Saya berada dikamar malam
itu, sibuk dengan laptop dan hp saya. Kelas feminis saya untuk 16HAKTP dimulai
hari ini. Rencana saya ingin on cam gitu pas zoom, ternyata
nggak ada aplikasi zoom dilaptop yang saya pinjam. Kesel dong, udah telat lagi
saya masuk zoom, gerah lantaran belum mandi. Aduh.
Belum 30 menit masuk room
zoom, keluarga saya sudah heboh diluar. Heboh kayak orang pengantinan. Saya
diam dikamar bersama kedua adik sepupu saya sampil makan gorengan yang saya
beli saat perjalanan pulang dari kampus.
Saya makan dan
meyimak pembahasan pemateri. But, saya dipanggil keluar kamar
terus.
Sumpah males banget.
Terlalu ramai. Saya nggak begitu suka keramaian.
Saya keluar sambil bawa hp.
Berusaha berkonsenterasi, mendengarkan dengan seksama. Nggak bisa, keluarga
saya lebih berisik. Entah kenapa mulut mereka begitu aktif malam ini.
Ibu sedang sibuk di dapur,
saya terpaksa keluar dari room zoom lantaran diminta menelpon adik saya.
“cari bapakmu, suruh pulang
ada tamu.” Tamu apaan coba? Sejak kapan keluarga sendiri dibilang tamu?
Situasi yang saya pahami
malam itu adalah, saudara nenek saya datang untuk menjengguk nenek saya yang
sedang sakit. Nenek saya sakit sudah beberapa hari, terpaksa saya bolak-balik
dari kampus ke rumah. Padahal saya sibuk gegara proposal penelitian dan tugas
yang tak kunjung habis.
Saya merasa aneh dengan ini
semua.
Saya keluar membawa teh
panas. Ada wajah baru.
Saya sudah menduga, pasti
orang ini berencana menjadikan saya istrinya. Orang itu si 11jt.
Saya tepis pemikiran iu,
barang kali itu saudara dari suami tanteku.
Pembicaraan terus
berlanjut, saya makin sibuk dipojokan mendengan suara pemateri. Ahhh… nggak
kedengeran. Saya menyesal tidak beli handset sebelum pulang. Ampun
deh.
11jt makin sibuk mengamati
saya dari kejauhan. Apa kalian berpikir saya salah tingkah? Tidak, saya kesal.
Saya benci sekali dilihat seperti tontonan.
Tatapannya seperti manusia
mengincar barang cantik di toko. Iya, saya merasaa diri saya dinilai seperti
barang dangang yang bisa dilihat sesuka hati. Saya benci itu.
Bapak saya datang, duduk di
kursi ruang tamu bcara dengan seorang pria tua, ku duga-duga bapak si 11jt. Saya
tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, jarak kami terlaluj jauh. Saya diruang
keluarga bersama yang lain, mereka di ruang tamu.
Jam 11 malam baru mereka
bubar, pembahasan terakhir adalah pernikahan.
“Siapa yang tidak mau
menikah didunia ini?” Kata salah satu saudara nenek saya. Saya ingin sekali
ketawa waktu mendengarnya. Ya jelas lah ada yang tidak ingin menikah. Haruskah
saya angkat tangan? Nanti saja, saya masih kesal.
Dugaan awal saya benar.
11jt ingin dijodohkan dengan saya, dia ingin menjadikan saya istrinya.
Nafsu makan saya hilang
malam itu, padahal perut saya sudah berteriak kelaparan. Mana bisa saya makan
diwaktu seperti ini?
Yang tersisa diruang
keluarga adalah saya, orangtua, nenek, adik sepupu dan tante saya. Mereka
berusaha menyakinkan saya untuk menikah. Untuk menerima si 11jt.
Katanya usia kami tidak
selisi jauh. Pekerjaannya jelas, gajinya tetap, 11jt.
“dia bisa membiayai
kuliahmu. Satu kali gajian udah bisa bayar uang kuliahmu sampai wisuda.”
“dia keponakannya si
B,bukan orang jauh.”
Saya memahami bahwa
keluarga saya punya 3 indikator untuk memilih calon yaitu gaji, selisi usia dan
keluarga si laki-laki. Saya paham bahwa permasalahan utama dalam rumah tangga
adalah finansial untuk itu gaji dari si laki-laki diperhitungkan. Namun saya
punya pemahaman yang lain.
Laki-laki dan perempuan
sama-sama memiliki hak untuk memenuhi kebutuhan finansial keluarga. Karena ketika
bahas pernikahan bukan cuma laki-laki saja disana tapi ada juga perempuan. Namun
dimasyarakat kita membagi peran laki-laki sebagai pencari nafkah utama, dan
alhasil perempuan harus mengantungkan diri pada laki-laki atau suaminya.
Dan saya tidak mau
bergantung pada suami, saya ingin memenuhi kebutuhan hidup saya sendiri. Saya ingin
menafkahi diri saya sendiri.
Kedua, permasalahan usia. Jujur
saya nggak mau menikah dengan laki-laki yang usianya sama kayak bapak saya. Maksimal
beda 10 tahun dari saya.
Usia ini selalu jadi bahan
pertimbangan, salah satu alasannya takut dibicarakan lantaran pasangannya lebh
tua. Dan alasan lain agar hubungannya lebih langgeng. Logikanya gini, ketika lo
seumuran atau beda beberapa tahun itu akan mempermudah untuk dekat/nyaman satu
sama lain. Padahal komunikasi, rasa hormat, jujur dan setara yang bisa
menjadikan kita nyaman.
Jika sedari awal saja
laki-lakinya tidak menghormati perempuan, memahami bahwa perempuan adalah
manusia utuh yang mampu berpikir, memilih dan mempunya hak atas dirinya
seutuhnya. Dan tidak memandang perempuan hanya sebatas objek yang tidak bisa
memutuskan, sekali dilamar udah pasti mau. Apalagi jika sudah disodorkan uang.
Ketiga, keluarga si
laki-laki. Kebiasaan banget menikahkan anak dengan keluarga sendiri padahal itu
bisa jadi paktor anak(keturun) lahir cacat loh. Ngak percaya? Coba cari di
google.
Saya ngerti sih kenapa
calon yang dipilih dari pihak keluarga karena jika ada masalah yang terjadi
bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Gitu kan? Kalau kamu tanya saya. Jelas saya
gak mau dinikahkan sama anggota keluarga saya, walaupun keluarga jauh.
“ibu sama bapak udah nggak
sanggup kerja lagi biayain kuliahmu.”
“kamu nggak kasihan liat
nenekmu sakit. Kamu mau nenek meninggal seperti kakek tanpa melihat cucunya menikah?”
(kakek dari pihak bapak meninggal beberapa hari yang lalu, belum seminggu)
Alasan paling
klasik dan megundang rasa ibah.
“kamu gak malu di omongin
orang belum menikah?” Saya tidak pernah
malu dengan keputusan saya sendiri.
“temen kamu udah pada
nikah, mereka baik-baik aja. Sudah menikah tapi masih bisa lanjut kuliah.”
“dia kerja diluar kota.” Saya tidak peduli.
“gpp tinggal di Parepare
dulu. Nanti kalau urusanmu Sudah selesai dia bawa kamu ke kota tempatnya
kerja.”
“Kuliahmu kan sisa beberapa
bulan lagi. Ngurus pernikahan nggak sebentar, masih sempat nikah setelah
wisuda.”
“dia bisa nunggu kamu
selesai wisuda. Tapi iya-in yah”
“saya tidak mau menikah.
Saya nggak mau ngurus siapapun. Cukup saya tinggal disini ngurus bapak sama
ibu.” Jawab saya dengan nada suara tinggi.
“ya udah, kamu mikir-mikir
dulu. Tapi kalau mereka datang lagi. Bapak bilang iya yah?”
“saya bilang nggak mau.”
“kurang apa coba dia?
Gajinya tetap, nggak terlalu tua dari kamu. Kalau ibu sih suka.” Dia kurang
menghargai saya sebagai perempuan. Dia kurang bahkan tidak mengerti konsep
persetujuan. Dia tidak melihat saya sebagai manusia seutuhnya. Dan masih banyak
lagi.
“bapak juga suka laki-laki
seperti itu.” Timpal bapak. Saya mengerti bapak menganggap laki-laki “laki”
kalau dia berani datang kerumah si perempuan, melamar. Tapi nggak gini juga
bapak.
“Kalau mau, bapak atau ibu
aja yang nikah sama dia. Saya nggak mau.”
Saya tau betul sikap
memaksa ini datang lantaran sudah 4 kali saya menolak untuk dinikahkan. 11jt
adalah yang kelima.
Saya adalah anak pertama,
cucu pertama dan perempuan paling tua di keluarga walau usia saya masih 21
tahun(maksud saya, saya masih muda). Hal ini memberi tekanan bagi saya.
“kamu maunya apa sih nak.
Mau jadi pengangguran kamu kayak sepupumu. Udah lulus kuliah tapi belum kerja.”
“itukan dia…” saya
mengatakan ini bukan berrti saya merasa lebih baik dari sepupu saya. Kami
adalah dua manusia yang berbeda. Jika bahas rejeki, saya percaya itu datng dari
Tuhan dan Tuhan yang menentukan itu. Kia nggak tau datangnya kapan, berapa
banyak, hanya Tuhan yang tau itu.
Saya tidak mau menikah
hanya karna saya tidak punya uang. Saya tidak memandang institusi pernikahan
sebagai tempat yang menyenangkan, bisa duduk leha-leha terus dapet uang dari
suami.
Saya tidak ingin menikah
jika alasannya karena uang, karena malu dibilang pengangguran. Jika saya menikah
hanya karena uang, itu berarti menjual diri.
“liat deh E, temen kamu.
Keluar kota sama suaminya. Kuliah masih jalan. Teman sekelasmu N masih
kuliah juga kan? Iya.”
Yang ibu tidak tau, E dan
N menikah dengan pacarnya. Laki-laki yang sudah mereka kenal selama
bertahun-tahun. Saya tidak ingin menikah dengan laki-laki yang tidak saya
kenal,Laki-laki yang bahkan tidak tau cara memperkenalkan diri dengan benar,
hanya menyodorkan gaji.
Saya bukan menyalahkan si
11 jt, barangkali dia hanya bodoh saja. Keluarga saya juga salah, memaksa
anaknya menikah, menyodorkan laki-laki padahal saya tidak menginginkannya.
Saya udah muak. Saya
bergegas masuk kamar, menutup pintu.
Saya mengabari
teman-teman saya. Mereka siap mendengarkan cerita saya. Pagi-pagi saya
berangkat ke Parepare, rencana bertemu pembimbing 2 tapi beliau
sibuk. Alhasil, saya curhat habis-habisan sama teman-teman
saya di sekret.
Saya tidak bicara dengan
orangtua saya, saya menolak semua panggilan masuk di hp saya. Bukan tanpa
alasan, Saya tidak ingin mendengar pernikahan ini dibahas.
Asal kalian tau saya takut jika keluarga saya membenci saya hanya karena masalah pernikahan ini.
Sore hari tanggal 2
Desember, saudara nenek saya menelpon memaksa saya mengatakan iya.
“Dengerin nenek, jangan
permalukan nenek. Nenek bilang ke mereka kalau kamu mau. Tenang aja mereka
belum tentu mau kok.”
Pihak perempuan menolak
bukan sesuatu yang memalukan. Harusnya yang malu adalah pihak laki-lakinya
karena ditolak mentah-mentah oleh saya.
Mungkin malu yang nenek
maksud ada pada dirinya karena menyodorkan cucunya ke laki-laki yang tidak saya
suka. Barangkali dia sudah bilang cucunya mau menikah, jadi menolak sama dengan
mempermalukan.
Dan tidak masuk di kepala
saya adalah bagaimana bisa pernikahan tidak terjadi jika sya bilang "iya
sya mau." kan bodoh itu namanya. Dan lagi, kenapa dia nunggu saya bilang
iya kalau dia ngaak mau kan bodoh.
Saya bertemu Top keesokan
harinya, di kostnya. Ada dua temen lain juga disana. Seharian saya ngebacot
disana, sampai besok siangnya ibu menelpon. Saya memberanikan diri mengangkat
telpon dari beliau.
Ibu berbicara seperti
biasa, seolah tak ada masalah diantara kami.
Ibu meminta saya pulang
untuk menjaga adik saya. Saya jawab iya iya aja. Sampai akhirnya nenek yang
bicara.
“jangan pikirin pernikahan.
Nenek udah marah-marahin orang disana. Suruh mereka berhenti mendesakmu. Kamu
focus belajar saja. Om A dan tante U menelpon kemarin, marah-marah..” Air
mata saya menetes, nggak bisa saya tahan lagi.
“pelajaranmu bisa-bisa
tidak karuan kalau mikirin pernikahan terus.”
Sudah dua hari tante U adik ibu mengirim pesan , meminta saya focus belajar saja. Om A pun begitu.
Saya sempat menerima telpon om A tapi saya gak sanggup bicara, saya
menangis tak karuan.
Saya hampir putus asa
lantaran mengira tak ada anggota keluarga yang berpihak pada saya.
Saya benar-benar ingin mengutuk budaya pariarki. Menjadikan
perempuan sebagai pihak yang paling menyedihkan.
Saya ingin mengutuk budaya perjodohan, dan mitos-mitos yang
mengekang hidup perempuan.
Mitos-mitos seperti perawan tua, mitos menolak lamaran sebanyak
tiga kali maka perempuan tersebut tidak akan laku lagi. Sorry to say, perempuan
bukan barang dangangan.
Saya bersyukur lantaran diberi pemikiran seperti ini. Saya begitu
mencintai diri saya, saya tidak ingin memaksakan sesuatu pada diri saya hanya
karena takut dibilang tidak laku.
Saya ingin menjadikan diri saya perempuan independent, punya
pemikiran luas. Saya amat bangga dengan diri saya sendiri, walau orang akan
mengakatakan saya egois, It's okay.


Komentar
Posting Komentar