Belajar dan Bermain
Hari ini jadwal seminar proposal, magang sampai wisuda di terbitkan pihak fakultas. Saya mencatat dengan seksama kemudian membuat perencanaan yang sebisa mungkin saya lakukan kedepannya.
Seperti biasa, saya selalu meyematkan satu pertanyaan ditiap perencanaan saya.
“apa yang ingin kamu lakukan setelah lulus kuliah nanti?”
Saya menulis beberapa perencanaan yang kemungkinan terjadi. Baik dan buruk. Saya berhenti menulis dan menyisakan tanda tanya lain.
Saya bingung dengan kehidupan saya sendiri. Saya mau kemana? Apa yang saya inginkan dan apa yang ingin saya lakukan dalam hidup ini?
Potensi macam apa yang saya miliki? Saya merasa jadi seorang pecundang.
Membandingkan diri dengan teman yang berpontensi memiliki masa dapan cerah, malah menjadikan saya insecure. Apa saya bisa sesukses dan secerdas dia?
Saya tidak berprestasi, menginjak rangking 3 besar di kelas saja tidak pernah. Paling dulu yang menjadikan saya bangga adalah nilai ulangan matematika saya 85 saat semua teman saya harus remedial. Cuma sekali. Ulangan berikutnya saya remedial lagi.
jika melihat usaha dan kerja keras teman-teman disekitar, teman sepantaran saya di bangku perkuliahan, rasanya saya terbelakang sekali. Tertinggal jauh.
Apa saya bisa lulus dengan nilai yang bagus? Jadi mahasiswa terbaik gitu seangkatan?
Apa ini yang disebut quarter life crisis? Saat di mana saya mulai meragukan kemampuan diri.
Jika berpikir ke depan, selepas lulus kuliah banyak ekspektasi dari orang lain ataupun keluarga yang harus saya penuhi. Saya benci, saya tidak mau menurutinya. Tapi apa bisa saya bersikap egois?
Selepas wisuda pasti yang dilihat berikutnya adalah pekerjaan. Sedihnya, orang-orang nggak tau setelah mendapat gelar belum tentu orang langsung kerja di perusahaan gede dengan gaji milyaran, beli mobil, rumah, hidup bahagia. Tidak begitu konsepnya ferguso.
Saya mulai membayangkan perkerjaan saya nanti adalah pekerjaan yang monoton dan melelahkan. Menjalani rutinitas keseharian yang sama. Bangun pagi, berangkat kerja, bekerja sampai sore atau malam, kemudian pulang istirahat, kemudian mengulangnya lagi. Saya tidak suka bekerja di bawah perintah orang lain.
Jujur saya tidak ingin memikirkan masalah pekerjaan atau urusan mencari uang. Saya nggak bilang “saya tidak butuh uang” yah. Tapi saya ingin menikmati hidup saya tanpa tekanan dari siapapun. Tanpa tuntutan harus begini begitu setelah lulus kuliah.
Saya benci memikirkannya.
Isi perut saya serasa ingin keluar memikirkan ini semua.
Itu ekspektasi jika memang saya bekerja, kalau saya dijebloskan ke institusi pernikahan beda lagi ceritanya.
Kamu tau kawan, perempuan seolah cuma punya satu pilihan terbaik dalam hidupnya yaitu menikah.
Kadang diberi opsi bekerja, tapi waktu yang diberikan perempuan untuk memilih pun sebentar. Seolah setelah perempuan menyelesaikan pendidikannya lebih baik nikah saja. Mau kerja di mana? Siapa yang ingin menerimamu? Enak kalau nikah tinggal tunggu uang dari suami.
Emosi deh saya dengernya.
Saya masih muda, sama masih 21 tahun. Saya ingin belajar dan bermain. Bisa tidak dunia ini jadi taman bermain saja? Maksud saya begini, saya suka belajar(walau nggak sepintar Maudy), mencoba hal baru, menghadiri seminar, bertanya, baca buku, menulis, berdiskusi, berbagi cerita dengan teman atau orang baru. Bagi saya itu namanya belajar dan bermain. Menyenangkan.
Entah, saya benci menjadi dewasa. Sialnya, saya tidak bisa menghindarinya.


Komentar
Posting Komentar