Perempuan nembak duluan

Perempuan nggak selamanya harus nunggu laki-laki. Perempuan juga bisa maju duluan. Kan laki-laki ataupun perempuan sama-sama punya perasaan. Punya akal.
Jika perasannya nggak tenang, yah udah ungkapkan, bicarakan, diskusikan. 

Menurut kalian salah nggak sih jika perempuan menyatakan cinta atau suka pada laki-laki terlebih dahulu? 

Beberapa waktu lalu saya membicarakan terkait keputusan-kepusan apa yang diambil sampai akhirnya memberanikan diri menyatakan perasaan duluan. saya membicarakan ha ini dengan TOP. 
Top, teman saya ini laki-laki. Dia memberi tahu saya bahwa ia merasa gelisa jika terus memendam rasa suka pada seseorang. Dia tidak suka hal tersebut mengaggu pikirannya. jadi dia memutuskan mengungkapkan perasaannya. 
Saya setuju akan hal itu.

Saya memutuskan menulis ini setelah membicarakannya dengan Top. saya rasa ini sesuatu yang tidak berani saya ungkapkan.
Saya ingin membagikan cerita saya yang udah beberapa kali menyatakan perasaan ke laki-laki. Respon yang saya terima ada positif dan negatif.

Saya pertama kali nembak laki-laki saat SMP kelas 3. ceritanya panjang banget sih dan memalukan.

Saya adalah anak buangan di kelas, saya jadi korban bully semasa SMP dulu. Yang paling kejam membully saya adalah temen sekelas saya sendiri, mungkin mereka udah lupa tapi saya masih inget dengan jelas perbuatan mereka terhadap saya. 

Saat itu saya sedang berada dititik terendah, sampai Si laki-laki ini datang. saya beri nama dia YS. Yah emang itu namanya.  Dia cucu mantan kepala sekolah SMP saya, berawakannya tinggi dengan bahu lebar, hidung mancung dan aggak pendiam.

YS merupakan anak baru dikelas saya, dia sering banget melihat kearah bangku saya. Kebetulan saya sebangku K si rengking dua. Yups, dia suka dengan K bukan  saya, cuman sayanya geer aja ngira dia suka sama saya. 

Saya nekat mengirimkan surat cinta pada YS sepulang sekolah. Saya lupa kapan yang pasti saya mengenakan seragam putih-biru. 

Apa yang menjadikan saya berani melakukannya? pertama, saya bingung apakah dia menyukai saya? kedua, saya ingin meminta pertolongan. 

Alasan kedua baragkali datang dari kebiasaan saya nonton film Disney. Akhirnya tumbuh pemahaman Happily ever after.  Seorang lelaki akan datang menyalamatkanmu,membawamu pergi dari semua penderitaan ini. Dewasa ini saya sadari, yang bisa menyelamatkan saya adalah diri saya sendiri. Makanya sekarang saya jarang minta tolong sama orang. Selama saya masih sanggup melakukannya, mengapa tidak?

seminggu lebih saya menunggu balasannya. Sampai berita mengenai saya yang nembak YS tersebar keseluruh sekolah. Katanya saya memaksanya untuk menjadi pacar saya. 
Saya nggak mengerti sejak kapan saya memaksanya? apa mengirim surat itu bentuk pemaksaan? beberapa perempuan ngejulitin saya(rupa-rupanya naksir sama YS), mengatakan saya perempuan tidak tau malu. 

Untuk pertama kalinya saya merasa dunia tidak berpihak pada saya. Serasa ada meteor yang datang menimpa tubuh saya hari itu, menghancurkan saya berkeping-keping. 
bullyan makin menjadi-jadi. Saya kecewa sekali. Saya kecewa lantaran temen saya berubah jadi moster yang jauh lebih mengerikan dari yang saya duga tapi di lain sisi, saya menemukan manusia baik. Syukur masih bersama dengan saya sekarang ini, sahabat-sahabat saya.

Apa saya menyesal melakukan itu? tidak. Saya senang lantaran berani menyatakan perasaan saya. Malu tidak? ada. 

Lanjut,
Saya kembali menyatakan perasaan saya pada laki-laki di bangku kuliah. Saya masih ingat, saya masih semester satu kala itu. BA ini senior saya, beda fakultas tapi. Kami dipertemukan gegara buku. Sayaa pengen minjem buku dia. 
Saya mulai sering berdiskusi buku denganya, yang saya syukuri dia berlaku sopan ke saya. Menghargai setiap pendapat saya walau nggak nyambung. 
waktu itu BA memposting foto juniornya, yang sekarang jadi teman baik saya.

Dulu saya mengira mereka pacaran, jadi saya memberanikan diri menanyakan hal tersebut. mereka tidak pacaran. 
Terlanjur bicarain pacaran, saya ungkapkan kegelisahan saya. saya katakan padanya, saya menyukainya. 
Dia menjawab dengan sopan, kenapa saya menyukainya? dan apa saya ingin berpacaran dengannya? saya jawab tidak.

Saya tidak tau mengapa saya menyukainya, padahal kami belum bertemu secara langsung. pacaran? saya tiddak berminat dengan hal semacam itu. saya hanya ingin mengungkapkan perasaan saya.
Menyesal? enggak dong. saya senang dengan diri saya.

Saya menemukan dua respon yang berbeda dari kedua laki-laki tersebut.
Pertama, YS mengangap saya memaksanya sedangkan BA tidak. Kedua, YS tidak memedulikan saya sama sekali. Dia meperlakukan saya seperti hantu, menakutkan. Sedangkan BA, menanyakan perasaan saya, dia lebih banyak bertanya “kenapa” dibanding diam. BA memilih berdiskusi tanpa menstigma saya. BA juga tidak menghindari saya. 
BA memahami bahwa saya berhak menyatakan perasaan, berhak berpendapat dan berhak memutuskan apa yang ingin saya lakukan. 

Menyatakan perasaan bukan perbuatan kriminal, dan tidak pula merugikan orang lain. 

Saya sering bertemu BA setelah peristiwa itu, dia tidak mempermalukan saya. dia memberi saya semangat, memperlakukan saya dengan baik. YS? saya pernah menemukan istagramnya, saya sempat melihat storynya satu kali. Tau tidak? dia memblokir saya. 

Seandainya saya diberi kesempatan, saya ingin bertanya ke YS. apa saya ada salah padamu? apa yang kau takutkan? tapi saya tidak yakin 100% itu tidak akan terjadi. Dia melihat saya dari radius 5 KM mungkin udah kabur dia. Aduh dasar cowo gila. 

YS, apa saya merugikanmu? apa jangan-jangan maskulinitas rapuhmu terusik lantaran saya lebih berani nembak daripada kamu?  bukan meremehkan, tapi kamu pecundang sekali jadi laki-laki.

Perempuan dikatakan dominan mengunakan perasaannya dibanding akalnya. Tapi kok saat perempuan menyatakan perasaanya kok dibilang memalukan sih? 

Perempuan nggak selamanya harus nunggu laki-laki. Perempuan juga bisa maju duluan. Kan laki-laki ataupun perempuan sama-sama punya perasaan. Punya akal.
Jika perasannya nggak tenang, yah udah ungkapkan, bicarakan, diskusikan. 

Komentar

Postingan Populer