PAINTING DATE

 

Ini pertama kalinya aku melukis di dekat orang lain, di tempat umum yang jauh dari kamarku. Aku terlalu anak rumahan untuk keluar. 
Disclaimer: aku memberi judul "Painting Date" karena kami hanya berdua jadi aku pikir itu seperti kencan. Tolong jangan berpikir negatif tentang ku -_- 

Setelah sekian lama akhirnya aku mencoba untuk melukis. Aku bukan pelukis, aku terlalu awam untuk hal itu. Di pikiranku, aku ingin mencoba hal baru. 
So, melukis jadi pilihan pertamaku.

Dari semua hobi yang ku miliki, ada satu kebiasaan yang terjadi. Aku tidak punya teman untuk di ajak  berbagi cerita, tips dan lainnya. 
Atau mungkin aku yang kurang bergaul yah? Entah.

Satu-satunya manusia yang aku tau suka melukis adalah dia✨
Temanku ini perempuan yah! 

Kami satu sekolah di SMA, sempat satu kelas. Kami tidak begitu akrab. So, aku canggung mengirimkan dia pesan yang membahas lukisan. 

Di pertengahan Ramadhan, dia sempat membicarakan keinginannya untuk melukis bersama (bukan sama satu orang aja, harusnya rame). Tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain.

Aku nggak tau hari itu datang juga. Kami memutuskan bertemu di Cafe untuk melukis. 

Jujur aku canggung banget. Pikiranku nggak karuan. 
Aku bawa apa yah nanti? Haruskan bawa alat lukis ku? Atau alat menggambar saja? 
Terus, aku harus buka topik bahas apa? Aku bagusnya duduk di mana? Apa dia bawa temen? Apa aku mengenalnya? Dan paling bikin nggak karuan adalah hasil corat-coret ku! Bagus atau jelek. 

Ini akan terdengar aneh. Ketika aku hendak berinteraksi dengan orang lain, otakku bekerja membuat skenario lengkap dengan percakapan dan bagaimana cara merespon. Detail banget. Kadang bingung sendiri kalau-kalau ekspektasi nggak sesuai dengan realita.
Nasib nasib....

Seperti yang aku katakan, kami tidak akrab. Selama tiga tahun di SMA kami jarang sekali berkomunikasi. Sekarang,  hampir 6 tahun setelah lulus SMA, kami bertemu kembali. Gimana nggak canggung? 

Aku bersyukur banget, dia chill dan gampang akrab dengan orang lain. Setidaknya itu mengurangi kadar kegugupan ku. 

Selama ini kami hanya berteman di sosial media saja. Ketika kami mulai percakapan salah satu referensi kami adalah apa yang kami posting di sosial media masing-masing. 

Kami bercerita banyak hal. Mulai dari kami yang tidak begitu akrab yang tiba-tiba ketemu, kemudian bahas masa SMA, kuliah, pekerjaan, dan menebak-nebak nama teman satu kelas. Kalau di pikir, kok aku tua banget yah pake acara nostalgia masa SMA...haha

Salah satunya, dia mengajarkan aku teknik melukis mengunakan watercolor. Dia juga menceritakan tentang ribetnya aturan-aturan melukis. Yah, itu keliatan sewaktu aku mencoba melukis. 

Aku tipe manusia yang "sesuka hati" alias tidak punya aturan. Kemudian kurang tau cara mencampur warna atau memasangkan warna yang cocok, seusai dengan objek yang digambar. Daun yah warnanya hijau. 

Selain itu watercolor juga butuh sedikit kesabaran yaitu pada tahap menunggu kering dan penambahan layer (jika diperlukan). Aku sadar, aku bukan orang sabaran, entah itu menunggu cat kering maupun menunggu hasilnya. 

Aku jadi kesel saat di ajar, aku seperti dilarang melakukan ini itu. Padahal aku kan suka. Kenapa harus.... 
Rasanya aku ingin meledak, untuknya tidak. Dari pertemuan pertama, aku menangkap kesan bahwasanya dia manusia yang mengerti situasi dan kondisi yang terjadi. Aku enjoy aja. Aku bertanya-tanya"Apa dia punya Nunchi?"

Contohnya saat dia sibuk main HP karena satu keperluan, dia menjelaskan apa yang ia lakukan dan minta maaf atas hal itu. Menurut ku itu bagus dan sopan, menandakan kehadiran mu di hargai.

Setelah aku mulai terbiasa dengan watercolor, kami mulai melukis, yang sebenarnya.

Aku tidak tau harus melukis apa, aku hanya mencoba melukis apa yang ada di hadapanku. 
Aku tidak begitu ahli, aku kembali mengakrabkan diri dengan kuas awal april lalu. Aku berterima kasih karena dia tidak memandang lukisan ku jelek, kurang lebih dia melihat dari sudut pandang lain. Tentang bagaimana lukisan itu, bagaimana perspektif si pelukis, dan lain sebagainya. Menyenangkan juga ternyata.

Aku memang sempat khawatir berlebih akan pertemuan kami ini, tapi pada akhirnya lancar juga. 

Mungkin yang paling mengesankan adalah reaksinya terhadap persepsi ku terhadap lukisan-lukisannya. Aku menganggap persepsi atau pandangan ku sendiri sebagai hal konyol maksudku, mungkin jika ada orang yang mendengarkan isi pikiranku tentang apa yang aku liat, aku akan jadi bahan lelucon. Tapi temanku ini tidak, mungkin itu bedanya anak seni dengan orang lain.. E hehe..itu menyenangkan.  

Dari apa yang aku lihat dia mencoba memahami diriku dari lukisan ku. "kau imajinatif juga yah." itu pernyataan yang mengejutkan sekaligus membingungkan ku. Apa iya? Aku emang suka berimajinasi tapi soal cowo korea bukan lukisan. 

Aku sebenernya nggak mau bilang ini karena kek "aku narsis banget yah !" tapi aku sadar ada kekuatan dibalik ucapan yang di lontarkan orang lain ke diri kita. Entah orang serius dengan apa yang ia bicarakan namun ketika kita memahami itu sebagai hal positif, itu akan mempengaruhi kita. Terlepas dari besar atau kecil pengaruhnya. 

Aku selalu berterima kasih terhadap apa yang hadir di hidupku. Entah ini efek aku suka sendiri jadi ketika ada teman yang datang dan menyapa itu terdengar menyenangkan. Walau tidak jarang aku mengabaikan atau tidak memberi respon yang ramah kepada mereka. Aku tidak terlalu pandai merespon orang lain. ..

Cukup sampai disini aja ceritaku. Ehehe.

Komentar

Postingan Populer