Untuk Lia, 2023
Hai ini Lia dari tahun 2024.
Hari ini tanggal 1 Januari, aku sedang membersihkan kamar kita. Kamar kita kotor penuh debu lantaran kita hanya sesekali pulang ke rumah. Buku-buku juga berserakan, tidak tersusun rapi di lemari. Ku putuskan hari ini untuk bersih-bersih.
Saat istirahat aku teringat tentang tulisanku, biasanya aku menulis surat untuk diriku di masa lalu dan masa depan. Aku pikir aku tidak menulis surat untuk diriku di tahun 2024, ternyata ada. Aku senang sekali.
Surat yang kau tulis tanggal 9 Januari itu aku akan membalasnya disini.
Ok, sekali lagi.
Hai Lia, ini aku dirimu dari 2024.
Kabarku baik-baik saja. Tidak sepenuhnya, aku terkena ISPA 3 minggu terakhir ini. Semalam sebelum pergantian tahun aku demam tinggi. Aku tersadar beberapa kali, tapi aku tidak melihat kembang api malam ini. Aku hanya mendengarnya saja. Aku tidak bisa bangun. Mataku juga sakit.
Intinya, aku sakit tapi aku baik-baik saja.
Hal pertama yang kau tanyakan padaku pada surat itu adalah "apa yang aku hadapi di tahun 2023"
Kau tau itu pertanyaan yang berat, kenapa kau malah menaruhnya di bagian awal? Ok, baiklah akan aku ceritakan. Sekalian aku akan menjawab pertanyaanmu yang lain.
1. Apa yang kau hadapi di tahun 2023?
Lia, tahun ini cukup berat untuk kita.
Kita memulai tahun ini dengan krisis identitas. Kita tidak tau diri kita siapa dan apa yang sebenernya kita inginkan dalam hidup. Kita hanya terus berjalan. Begitu saja.
Setelah lulus kuliah, mencari pekerjaan, kita bekerja di tempat bimbingan belajar. Kau tau, tahun ini kau banyak berdebat dengan dirimu sendiri. Kau terus mengajar dan terus bertanya pada dirimu sendiri "apa aku layak menjadi guru? Apa yang aku berikan kepada mereka? Apa aku cukup pintar untuk mereka" Begitu, setiap saat. Hingga di satu titik kau kehilangan arah. Kau akhirnya resign.
Bukannya tenang kau malah menyalahkan dirimu sendiri. Kau kehilangan arah lagi.
Ekonomi keluarga yang kau pikirkan, serta pandangan orang lain melihat dirimu.
Bayangkan seorang anak yang kuliah 4 tahun di jurusan kesehatan malah menjadi guru? Aneh sekali bukan? Sebenernya banyak yang seperti itu, kuliah A kerjanya B. Kau juga sering mengatakan itu pada diri sendiri, tak masalah kerja tidak sesuai jurusan yang penting kau suka. Tapi, liat kau akhirnya muak juga.
Kau muak dan mencoba mencari pekerjaan lain, dan berakhir kabur. Aku tidak tau kau senekat itu. Seorang perempuan di kirim orang tuanya bekerja di tempat jauh kemudian di malam hari dia pergi begitu saja dengan alasan ingin mengambil barangnya. Luar biasa.
Aku kecewa sebetulnya, bagaimana bisa kau tidak bisa bertahan tapi aku tau, kau tidak suka itu.
Aku hanya berharap, tahun berikutnya kau bisa mengatakan apa yang tidak kau suka. Bukan malah kabur.
Di balik itu semua, tahun ini kau terus berusaha untuk melakukan apa yang kau suka. Kau mulai melukis dan mencoba beberapa kegiatan yang membangkitkan jiwa imajinatif mu. Kau terlihat polos yah saat di hadapkan dengan seni.
Kau berusaha memanfaatkan uangmu untuk usaha lain, dan membeli barang-barang yang kau suka. Bukan sekedar suka tapi juga untuk membantumu meningkatkan skill lain. Skill melukis ehehe
Kau mulai menulis juga tahun ini walau lagi dan lagi kau berhenti sebelum menyelesaikannya.
Tolong selesaikan sesuatu yang sudah kau mulai, jangan kabur begitu saja. Ok?
2. Apa kau masih sering menangis?
Lia, kau bertanya apa aku sering menangis tahun ini?
Iya,setiap saat. Nonton kartu, melihat orang lain, saat melihat hidupmu sendiri, saat memikirkan orang yang kau sayang, saat mendengarkan musik. Yah, matamu tidak pernah kering. Kau hobi sekali menangis yah. Nggak ngerti aku, tapi begitulah kita. Kita hanya bisa melupakan emosi kita dengan cara menangis. Menangis dalam diam. Menakutkan sekali , Kenyataan yang harus kita hadapi.
Lia, ada satu hal yang aku sadari dari apa yang terjadi tahun ini. Kita berusaha untuk tetap kuat dengan segala apa yang terjadi. Aku juga menyadari satu hal, kita punya keluarga. Walau terkadang mereka juga menyakiti kita tapi setidaknya mereka ada.
Kau sudah bisa berbicara dengan orang yang lebih tua, bercanda, tertawa tanpa rasa canggung. Kau belajar banyak hal tahun ini.
Hah...
Aku ingin sekali menghela nafas Lia. Kita sering sekali sendiri tahun ini, kau beberapa kali makan sendiri, pergi sendiri, bicara sendiri.
Satu hal yang aku syukuri, kita punya teman. Satu manusia yang selalu kau tempati curhat. Dia masih ada di sisimu. Jarak kalian memang jauh tapi masih sempat untuk berkomunikasi.
Aku tidak tau pertemanan bisa sejauh itu. Setidaknya dia tidak mebuatkmu merasa sendiri, walau terkadang dia yang khawatir denganmu. Aneh juga, dia takut kita bunuh diri.
Aku memang sempat berpikir demikian, tapi aku tau jika aku pergi bagaimana dengan orang yang aku tinggalkan. Mugkin itu masih jadi motivasi utama agar aku tidak bunuh diri, disaat aku benar-benar muak dengan hidup ini.
Aku takut menghadapi masa depan tapi aku berharap bisa mewujudkan impian kita. Kita punya banyak impian setelah lulus kuliah. Kau benar-benar tidak lelah yah. Jika di ingat, kau hampir menyerah saat skripsi kemarin.
Kau hebat Lia, aku bangga padamu.
3. Apa kau masih menyukai lelaki itu?
Oh iya, di surat kau bertanya apa kita masih mengidolakan Kang Taehyun, apa aku masih menyukainya? Tentu saja. Aku cuma malu saja, dia pintar, sama hanya dengan Jake. Mereka sama-sama pintar. Di lain sisi aku juga menyukai Soobin, dia seperti dirimu, introvert. Aku melihat diriku di soobin. Aku jarang mengunggah foto mereka di sosial media. Itu aggak memalukan.
Aku hanya sesekali mendengar lagu k-pop, aku fokus di lagu berbahasa Inggris sekarang. Hanya mendengarkan saja, aku tidak suka mengikuti gosip atau kehidupan mereka.
4. Bagaimana keadaan kita sekarang, apa kita masih tinggal bersama orang-tua?
Lia kau bertanya keberadaan ku sekarang bukan? Aku tidak mengatakannya diawal lantaran, kita baru menjalani kehidupan baru lagi, jauh dari orangtua. Aku sedang di rumah sekarang, aku hanya pulang sesekali ke rumah. Aku kerja di RS sekarang. Tiap hari berhadapan dengan pasien. Melelahkan, sekaligus menyenangkan.
Yang paling menyenangkan adalah kau masih terus bermimpi walau sudah punya pekerjaan yang kau impikan. Lebih tepatnya, pekerjaan sesuai jurusan...
5. Apa kau masih merasa insecure?
Lia, ada satu pertanyaan yang kau lontarkan sebagai penutup surat, cukup mengejutkan kau menanyakan tentang rasa insecure terhadap diri.
Kau tau, rasa insecure itu masih ada. Setiap saat. Aku juga lebih sering membandingkan diri dengan orang lain. Merasa orang lain lebih beruntung, merasa diri ini hanya pantas mendapatkan perlakukan buruk. Tapi kau tau, kau selalu berusaha bangkit dari keterpurukan. Bagaimanapun keadaannya.
Kau boleh insecure tapi aku terus melawannya. Kau kuat Lia, aku akui itu. ..
Lia, kau tau tahun ini kau berusaha keras mengenal dirimu, berlajar sedikit egois dan tidak terus menerus meminta maaf untuk hal yang bukan kesalahanmu.
Kau berusaha menyeleksi segala sesuatu yang menganggu mu. Kau mulai berusaha untuk mengatakan isi pikiranmu sekalipun berakhir dengan pertengkaran, setidaknya kau bisa melawan ketakutanmu...
Ehmm... Lia, tahun 2024 ini aku tidak tau bagaimana keadaan kita. Apa yang akan kita hadapi. Aku hanya berusaha untuk terus memperkuat diri menghadapi apapun yang akan datang dalam hidup kita.
Aku bersyukur bisa melewati tahun ini wlaupun penuh dengan air mata.
Aku sayang padamu Lia.
Teruslah berusaha, melangkah maju. Seberat apapun masalah yang kau hadapi kau harus menghadapi nya. Hanya itu jalan satu-satunya.
Terus belajar Lia. Aku ingin melihatmu lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.


Komentar
Posting Komentar