Lia's Note: Tiba-tiba Saja Aku Sudah Di Tempat Ini
Sudah setahun setelah aku wisuda.
Aku memikirkan kembali apa yang terjadi padaku setahun belakangan ini.
Kehidupan yang kacau? Tidak tau arah? Benalu orang tua? Kuliah sia-sia? Atau mesing penghabis uang? Entah kurasa semuanya benar.
Aku berusaha menjalani hariku dengan santai setelah lulus kuliah, tidak begitu berambisi akan diterima kerja di rumah sakit, klinik bahkan puskesmas. Tidak ada, di terima kerja di PT besar? Tidak juga. Aku hanya bangun, makan dan tidur lagi.
Nggak juga sih sebenernya, aku belajar bahasa Inggris, ielts yang sangat rumit namun menarik. Kadang aku menghabiskan waktu 2 jam di subuh hari untuk mengerjakan soalnya. Tapi aku nggak sepinter dan selancar itu Berbahasa Inggris. Aku terlalu kaku.
Hingga, belum gena sebulan aku lulus kuliah, seorang teman menawariku bekerja di tempatnya. Mulailah aku meluantlan waktu membuat CV, mempersiapkan diri untuk interview dan microteaching. Yaps itu hentakan pertama yang membuatku bingung pada jalan yang ku pilih. Menjadi guru les dengan segala kebingungan yang kumiliki. Dengan segala rasa takut yang ada.
Apa aku bisa memberi yang terbaik untuk muridku? Apa aku sudah cukup pintar untuk mereka? Apa aku setolol itu? Apa aku setidak becus itu mengajar?
Tekanan dari dalam yang ditambah respon eksternal yang jelek.
Kok nilai anak saya jelek?
Tolong pelajaran fokus ke A jangan di B dulu.
Rasa takut yang membuatku bertahan sekaligus membawaku ke titik ambang batas. Akhirnya aku memilih resign setelah 10 bulan bekerja.
Sebelum sampai di titik ambang batas keputusasaan, aku pernah bekerja di toko plastik milik keluarga jauh kakekku.
Keluarga jauh kakekku.
Aku harus mengakui, kerja di sana amat sangat super sibuk. Toko yang ramai, barang yang harus di tata setiap saat, toko yang harus selalu bersih.
Dan lagi-lagi aku mengalami tekanan. Keluarga jauh kakek. Itu berarti kau harus bersikap baik, penurut dan mau bekerja. Masalahnya adalah aku bukan orang seperti itu. Aku tentu mengikuti cara kerja mereka tapi kau tau, itu melelahkan.
Di tempat les aku merasa bingung dan tersesat lantaran aku tidak tau pendidikan itu harusnya seperti apa. Metode belajara apa yang harus aku lakukan untuk membantu anak-anak belajar. Belum lagi tekanan orang tua dan yah, aku tidak punya teman untuk berbagi keluh kesah ku. Kurasa semua orang hanya memaklumi, oh iya anak-anak memang selerti itu. Aku mulai muak mendengarnya.
Di toko juga begitu, tidak ada teman. Seolah orang-orang tengah menghindariku. Pada akhirnya aku memaksa diriku bekerja terlalu keras. Tubuhku gemetar, wajahku pucat, kakiku sakit. Yang menyedihkan adalah tidak ada orang yang bertanya apa aku baik-baik saja?
Aku cenderung ingin santai dalam bekerja, aku suka bekerja sendiri, tersenyum dan menyapa orang lain karena aku ingin,bukan karena aku bekerja di toko milik keluarga jauh kakekku.
Kelurga jauh kakekku, mereka terlalu jauh, hingga aku merasa terasing sendiri. Aku jadi benci keluargaku.
Akhirnya aku memilih kabur. Aku kabur dimalam hari tanpa mereka tau, keluarga ku pun tidak tau. Aku pulang dan hanya menangis seharian.
Aku mulai muak dengan pekerjaanku. Bahkan ketika kembali mengajar, rasa muak dan lelah itu ada. Dan yah aku resign.
Ibu sempat mengomel lantaran sikapku yang keras kepalaku.
"Orang lain sudah susah payah mengurusmu kerja di sana minimal beierjalah sampai dapat gaji."
"Orang tidak akan membantu kita jika kita bersikap seperti itu."
Kurasa seperti itulah. Itu membuatku sedih tentu saja.
Aku tidak ingin dibantu. Kau tau kenapa? Karena orang tua ku akan bersikap berhutang budi pada mereka. Aku benci itu. Tak peduli barang, uang ataupun tenaga pasti mereka berikan.
Aku tau itu sikap yang baik karena itu mengambarkan orang tua ku tidak lupa kebaikan orang lain. Tapi disanalah letak ketidaksukaanku. Mereka, orang tua ku akan sangat merendahkan diri mereka, dan aku tidak suka itu.
Yah, aku tidak tau harus bicara apa lagi. Sekian dan terima kasih, saya sudah menangis.


Komentar
Posting Komentar