Sejauh ini,aku baik-baik saja



Seseorang bertanya padaku, "Kamu pernah operasi nggak?" Aku tidak tau kenapa dia mempertanyakan hal semacam itu. Tapi dia berhasil mengingatkanku pada kejadian mengerikan yang terjadi beberapa tahun lalu. Sekaligus membantuku menemukan jawaban "kenapa aku begitu sedih saat membaca buku Mitch Albom?" Jawabannya, toko utama dari kedua buku tersebut memiliki kehidupan yang hampir sama dengan ku.

....
Aku tidak tau apa yang akan kalian pikirkan ketika membaca tulisanku ini. Mungkin kalian berpikir aku lebay, over sharing atau seperti bermental korban. Terserah saja, aku harap ada pelajaran yang bisa kalian dapat.
...

Sekitar tiga tahun lalu seorang teman bertanya padaku, "apa kamu baik-baik saja setelah kecelakaan itu? Apa ada sesuatu yang berubah?" 
Aku menjawab dengan singkat, aku baik-baik saja. Itu tidak sepenuhnya salah. Hanya saja ada kebohongan di dalamnya. 

Aku tidak pernah mengungkit masalah itu pada siapapun, setelah lulus SMA aku kembali menjalani kehidupan ku. Kehidupan yang berbeda seolah kejadian kemarin tidak pernah terjadi. 
Itu terdengar menyedihkan, tapi itu satu-satunya cara yang kumiliki. Untuk melupakan kejadian itu. 

Aku benci orang dari masa lalu, yang tau kejadian itu. Aku tidak suka kejadian itu di ungkit. 
Aku tidak suka tatapan orang-orang padaku, tatapan mengasihani, seakan aku adalah manusia lemah dan tidak berdaya. Menyedihkan. 

Dan, beberapa waktu lalu ada seseorang yang bertanya padaku. 
"kamu pernah operasi ngga?" Aku tidak mengerti mengapa orang ini menanyakan hal semacam itu, apa dia tau siapa aku? Atau itu hanya pertanyaan acak saja? Dia seperti mengorek luka lama yang tidak ingin aku ingat.
Pertanyaan itu nyaris memenuhi kepalaku 2 hari belakangan ini. Aku bisa dengan mudah menjawab "pernah" atau berbohong bahwa "aku tidak pernah mengalaminya."

Aku tidak sepenuhnya mempermasalahkan operasi itu, yang menjadi fokus utama adalah sebab dan akibat dari operasi itu. Kecelakaan yang mengerikan dan kehidupan baru (yang menyedihkan).
....

Pukulan pertama yang aku dapat setelah kecelakaan itu, teman dekatku menjauh dariku. Dia bertindak seakan kami tidak pernah mengenal satu sama lain. Padahal kami begitu akrab, dulu. Aku seperti anak yang terkucilkan. 
Aku masih ingat dengan jelas, dia memilih duduk bertiga dan meninggalkan aku seorang diri. 
Aku tau kenapa dia melakukan itu, dia pikir kejadian yang terjadi padaku adalah kesalahannya. Aku bahkan tidak berpikir ke sana. 

Yang aku sadari adalah dia tidak pernah melihat ke arahku lagi.

Kedua, tatapan orang lain padaku. Tatapan kasihan. Aku tidak suka di kasihani. Aku tidak suka di anggap lemah walau aku bisa melihat diriku sendiri di cermin, badan kurus dengan wajah pucat. "Aku benar-benar butuh  pertolongan."

Aku memaklumi, rasa kasihan, empati seseorang akan muncul jika melihat ada orang sakit atau tertimpa musibah. Itu wajar. Tapi sedihnya bukan cuma satu yang memandangku demikian.

Selain tatapan kasihan, ada jenis tatapan yang aku terima. Tatapan jijik. 
Aku menyadari aku tidak memenuhi syarat cantik yang ada. Aku tidak memiliki bentuk badan yang bagus, dan aku malah mengalami kecelakaan. Aku merasa wajahku aneh. Ku pikir, Orang-orang jijik padaku. Mungkin wajahku seaneh itu sampai mereka juga tertawa. Lucu sekali.

Dan satu perlakuan lagi, yang aku terima. Aku di cap tidak bertanggung jawab.
Aku pernah tergabung dalam satu organisasi di sekolah dan suatu hari dia (pembina) memintaku datang ke ruangannya. Dia memarahiku di sana. Dia mengatakan aku tidak bertanggung jawab karena dalam periode yang begitu lama aku tidak bertugas. 

Aku tidak tau dia menghitung mulai dari mana, apa dia mulai menghitung sejak aku masuk rumah sakit? yang aku tau, aku bertugas walau kondisiku belum stabil. 
Pertanyaan, "Kamu kemana saja selama ini?" Membuatku bingung dan nyaris tertawa. Apa dia tidak tau aku sakit? Apa kondisi tubuhku yang nampak menyedikan ini, dengan bekas luka di wajah tidak memberinya gambaran? 
Yang tidak aku suka, dia memperlihatkan perilaku superiornya. Mungkin dia berpikir itu tegas, tapi menurutku konyol.  Dia memberi pilihan "mengundurkan diri atau di permalukan." Aku memilih yang pertama. 

Aku masih ingat beberapa orang mempertanyakan alasan aku keluar dan kenapa namaku tidak disebut saat apel/upacara berlangsung. Biasanya anggota yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik, atau melanggar atau mengundurkan diri, biasanya nama mereka di sebut dan  tampil di depan saat upacara/apel berlangsung. Gunanya apa? Supaya seluruh siswa tau, mereka bukan anggota lagi. 

Tapi namaku tidak pernah disebut. Mungkin dia lupa. 

... 

Ada pemahaman yang terbentuk dalam diriku setelah semua kejadian itu. Semua hal buruk ini terjadi karena kecelakaan itu. Di jauhi teman, di salahkan, perasaan menyedikan dan di tertawakan. 
Seharusnya kejadian itu tidak pernah terjadi. 

Saat membaca kedua buku Mitch Albom "Five People You Meet in Heaven" Dan "The Next People You Meet in Heaven" Tokoh utama di masing-masing buku Edie dan Annie memiliki kesamaan dengan ku. Kami pernah mengalami kecelakaan, dari sana hidup serasa berbeda.
Edie menyalahkan kakinya yang cacat, mengatakan bahwa kakinya lah ia terus tinggal di tamah hiburan sampai akhir hayatnya.  
Begitupun dengan Annie, sejak kecil ia sudah menyalahkan diri di setiap peristiwa buruk yang menimpanya. Saat kecelakan terjadi, dia menyalahkan dirinya, lebih dalam lagi. Karena dia, seseorang meninggal.

Dan begitupun denganku. Aku malah bertingkah seolah kejadian itu tidak pernah terjadi. Mungkin yang di alami Annie dan Edie jauh lebih parah dari apa yang terjadi padaku. Tapi perihal menghadapinya hampir sama. 

Aku mencoba belajar menerima apa yang telah terjadi padaku. Membaca kedua buku itu sedikit memberi makna dalam hidupku. Mungkin aku harus bersyukur, setidaknya aku masih hidup. Tapi jujur saja tidak mudah menghadapi semua ini. Menyalahkan kejadian itu tentu saja masing sering ku lakukan. 

Bagaimana pun, bekas luka itu sudah melekat di tubuhku. Aku punya perilaku buruk, aku tidak suka bercermin. Karena aku cacat. 
"Siapa yang suka pada gadis cacat?" 

Menyedihkan. Hanya yang terus aku katakan. Bahkan sampai akhir tulisan ini. 

Sejauh ini, aku baik-baik saja. Tidak usah khawatir. 

Komentar

Postingan Populer