[review Buku ] JANGAN PULANG JIKA KAMU PEREMPUAN
“Yah, suatu hari nanti akan datang laki-laki yang menikahi saya, membangun keluarga bersama dan hidup bahagia selamanya.” Saya tumbuh dengan pemahaman dan anggan happily ever after (bahagia selama-lamanya).
Xx
Setelah dibuat pusing oleh laporan KKN, kepusingan saya berlanjut dengan adanya pengajuan judul skripsi dan penyusunan proposal penelitian. Saya drop, sakit. Lantas harus mengkonsumsi obat secara teratur. Saya lelah, saya ingin istirahat sejenak. Membaca.
Jangan Pulang jika Kamu Perempuan adalah buku pilihan saya. Saya sudah melirik buku ini sejak penerbit Buku Mojok memperkenalkannya lewat Instagram bulan Agustus lalu. Saya masih dilokasi KKN hari itu.
Kenapa saya memutuskan membeli buku ini? Tentu kalian tau saya senang dengan pembahasan perempuan, saya tak pernah bosan-bosan dengan topik satu ini. Walau saya didera kebingungan lantaran banyak buku terkait perempuan yang di sodorkan ke saya.
“sudah, saya ingin membaca buku fiksi dulu.”
Buku fiksi karya Riyani Rizki berisi 12 cerita pendek yang bertalian kuat dengan beragam dongeng, legenda, ataupun cerita rakyat. Cerita-cerita tersebut jauh dari janji happily ever after.
Seperti yang kita tau kisah semacam, Timun Mas, Rapunzel, Bawang Merah dan Bawang Putih, berakhir dengan Happy ending. Hidup bahagia setelah menikah dengan pangeran.
Berbeda dengan yang digambakan Riyani Rizki, coba Anda bayangkan bagaimana jadinya Timun Mas lahir di zaman modern seperti ini? Seorang bayi perempuan yang ditemukan ditempat sampah (diatas tumpukan timun) dekat lorong lokalisasi. Kemudian dibesarkan dan diasuh oleh pelacur. Terdengar nyeleneh bukan? Namun saya suka dengan ide penulis.
Dia mencoba menyisipkan isu-isu perempuan dalam kisah-kisah legenda, dongeng, dan cerita rakyat. Kemudian dengan epik, menepis Happily ever after.
Dari beberapa cerpen yang saya baca dibuku ini, penulis tidak memberi saya ruang untuk berpikir “akan hadir lelaki yang menyelamatkannya” justru jalan yang dipilih adalah perlawanan.
Iya, kau harus berani melawan. Membela hak-hak mu.
Ok berhubung kita bahas happily ever after, saya ingin flashback ke masa kecil dulu.
Saya anak perempuan yang tumbuh dengan janji manis hidup bahagia selamanya. Jangan tanya saya dapat janji itu dari mana? Dari televisi, kartun yang saya tonton, cerita rakyat yang kompak menyajikan gambaran alur hidup yang sama. Perempuan dilahirkan—hidup menderita(diliputi kemiskinan atau disiksa ibu tiri)—datang laki-laki(baik, kaya, tampan) menikahinya—hidup bahagia selamanya—tamat.
Bagi anak kecil ingusan seperti saya happily ever after sangat menjanjikan. Bagaimana tidak, untuk terbebas dari pekerjaan rumah, lepas dari cubitan dan amarah ibu, harus ada lelaki yang datang melarikan saya, eh maksudnya menikahi saya.
Tapi….realita kehidupan pernikahan mendatangi saya. Perceraian, perselingkuhan, pertengkaran, masalah ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga. Alhasil saya malah tumbuh dipenuhi luka,amarah, dan dendam. Seringnya mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari laki-laki justru memupuk kebencian saya terhadap manusia satu itu.
Saat membaca buku ini, perasaan amarah, sedih, dendam, benci, perasaan saya campur aduk. Saya bahkan bingung harus menggambarkannya dengan cara apa. Lebay banget yah saya.
Ada 2 cerpen yang berkesanan untuk saya yakni “May” dan “Perawan, Perawan, Turunkan Rambutmu”
Kisah Perawan mengingatkan saya pada diri saya dimasa kecil. Yang menunggu Lelaki baik datang, membawa saya keluar dari menara untuk melihat dunia luar. Saya tidak pernah terpikir mereka adalah makhluk buas bisa memangsa saya kapan saja.
“Lelaki itu seperti apa, Ibu?”
“Mereka makhluk buas. Bisa memangsamu. Ketika kamu dimangsa, orang-orang akan menyalahkanmu karena berkeliaran.” (hlm. 146)
Saya bukannya berlebihan dan cenderum membenci laki-laki tapi memang sedikit dari mereka yang brengsek, sisanya brengsek banget. Hehehe canda brengsek.
Gak semua laki-laki itu baik. Barang kali itu adalah alasan ibu melarang saya keluar rumah, melarang saya membuka intu jika ada yang mengetuk apa lagi saya sendiri dirumah. Sebagaimana Perawan, dikurung dimenara dan diminta bersembunyi tiap ada orang yang datang.
Yah, walau dia harus menerima konsekuensi dari sifat keras kepalanya. Perawan meyakini Lelaki itu baik. Padahal…..
It's okay, saya salut denganPerawan dan Ibunya yang saling dukung sebagai sesama perempuan yang dalam hidupnya pernah mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari lelaki.
Lain kisahnya dengan May, seorang gadis cantik yang mengingatkan saya pada sosok Medusa. Perempuan dengan banyak ular dikepalanya.
May dikisahkan sebagai perempuan pekerja yang mendapat pelecehan dari bosnya. Bos yang sudah beristri, bukannya May mendapat pembelaan dari teman kantornya saat dilecehkan, dia malah di fitnah balik.
“kucing kalau disodoring ikan, pasti mau lah.” Padahal gak semua kucing makan kalau ada ikan. Dan laki-laki bukan kucing.
May dan Perawan sama-sama melakukan perlawanan, membela diri mereka.
Bagi saya perlawanan May dan Perawan memberi saya ketenangan sekaligus rasa sedih. Mereka berhasil membalas dendam mereka pada Lelaki yang memanfaatkan mereka, yang melecehkan mereka, yang memberi efek trauma dalam diri mereka. Yang membuat saya sedih adalah, saya tidak bisa seperti mereka, dendam saya masih membara, dan terus tumbuh seiring waktu berjalan.
Yaps, lagi dan lagi. Tidak apa-apa. Akan ada waktunya saya membalaskan dendam saya.
Dari kedua cerpen ini secara tak langsung menyinggung kasus pelecehan seksual, eksploitasi seksual, serta bagaimana perempuan selalu jadi pihak yang disalahkan.
Mudah-mudahan ini menjadi gambar agar kita lebih mudah memahami kondisi dan situasi yang terjadi.
Jangan sampai menyalahkan korban, dan melepas pelaku begitu saja.
Hehehe..
Ok, mungkin cukup. Saya tidak ingin menunjukkan kebencian saya.
Jika kalian penasaran dengan kisahnya, silahkan beli dan baca bukunya.
Terakhir, saya ingin merekomedasikan buku ini untuk dibaca perempuan-perempuan diluar sana atau kalian-kalian yang tertarik dengan isu perempuan. Buku ini mengemasnya dengan cara yang epic. Unik.
Sampai jumpai, bye.


Komentar
Posting Komentar