Red Diary: Pakaian



“Kamu kayak anak kampus sebelah, pake rok. Coba deh pake celana sobek-sobek atau ngerokok gitu.”

Peryataan diatas di ungkapkan oleh salah seorang teman perempuan. Berenisial DW 
Dia melontarkan kalimat tersebut kepada  saya di suatu forum pengaderan komunitas.

Pengkaderan kali ini beda dari pengkaderan yang pernah saya lakukan. Senggaknya gak ada kekerasan, bentak-bentak, siram-siraman dan lain-lain. Yang bikin saya muak dan Ketakutan sampai berefek trauma. Iya. Serius. Bukan karena saya lemah. 
Jangan berpikir orang yang mengalami tekanan mental adalah orang yang lemah.

Saya datang ke lokasi  cukup lambat dari yang lain. Hari itu saya mengenakan pakaian biasa, ciri khas saya. Jilbab panjang, baju kemeja, dan rok lengkap dengan sepatu basket dan ransel merah besar. 
Pakaian seperti itu tidak cocok di kenakan di pengkaderan bebas seperti ini, dimana mayoritas mengenakan celana dan baju kaos. 

Saya emang beda sendiri.

Sialnya saya dipandang negatif oleh DW. 
DW merupakan anggota organda yang kebetulan saya kenal di forum organdanya sendiri, awalnya saya kira dia lebih tua dari saya, ternyata kami hanya beda setahun. Walau begitu DW lebih mudah bergaul dan suka belajar dibanding saya.

Pagi itu, masih di lokasi pengkaderan, saya duduk di sampingnya yang masih setengah mengantuk, baru bangun agaknya. Di depannya ada dua perempuan muda, tidak saya kenal sedang mengobrol, sepertinya mahasiswi dari kampus sebelah. Busana mereka persis dengan yang saya kenakan.

Kampus sebelah emang identik dengan konsep Islamnya, beda dengan kampus saya yang berbau Muhammadiyah, tapi secara garis besar sama aja sih. Sama-sama tidak menoleransi identitas individual mahasiswanya atau dengan kata lain melarang kami mengekspresikan diri dalam bentuk apapun, salah satu contohnya berpakaian. Kami diharapkan mengenakan rok bagi perempuan, berjilbab(itu peraturan dasar setiap kampus atau sekolah yang beragama islam) dan mengenakan kemeja, tidak boleh pakai baju kaos atau mengenakan celana. 
Seperti itu. 

Sahabat saya yang beragama kristen pun harus mengenakan jilbab. Dia tidak protes, “ini kan muhammadiyah Mel, masa aku gak pake jilbab.” Yah sesimpel itu. “Aku usah terbiasa kok.”

Berbeda dengan kampus DW yang mengizinkan mahasiswanya pakai celana. Mereka lain lagi.
“Kamu kayak anak kampus sebelah aja Mel, pake rok. Sekali-kali pake celana....” Dalam hati saya berucap. 

“Kamu aja, saya sih enggak.” 

Yang terdengar di telinganya “oh itu, saya dari penyuluhan langsung kesini jadi lupa pake celana.”

Bohong. Saya penyuluhan jam 8 pagi selesai jam 10 pagi. Saya masih sempat makan pangsid di warung langganan, pulang muntah karena bulimia dan minum obat pencernaan. Baru jam 3 sore saya otw ke lokasi, itupun saya mampir makan esbuah dengan rombongan. Intinya, saya punya lebih banyak waktu untuk mengganti pakaian saya.

Yang jadi masalah adalah, apa mengenakan rok berarti Anda anak kampus sebelah? Atau apakah Anda termasuk mahasiswa yang patuh, tunduk terhadap birokrasi? Atau yang lebih kejam, terkena dogma agama.
Yah jawabannya pasti, belum tentu.

Seperti merokok, orang yang merokok belum tentu jahat dan orang yang tidak merokok belum tentu orang baik. Bukan begitu?

Saya percaya setiap individu punya keunikannya masing-masing, memiliki pemahaman yang beragam. Yang terpenting pasti kebebasan mereka untuk berpikir dan bertindak tanpa memandang gender, jenis kelamin, agama, bahkan status pendidikan.

Saya yakin, mahasiswa kampus sebelah, masing-masing individu di dalamnya punya identitas dan cara berekspresi berbeda-beda. Walau ada pula yang membatasi diri lantaran peraturan yang berlaku. 

Ciee elah bahasa gue...

Pernyataan yang dilontarkan DW sebetulnya sudah mengatur masalah individual saya sebagai perempuan. 

Seolah DW memberi pemahaman bahwa “semua perempuan yang mengenakan rok adalah mahasiswi kampus sebelah dan termasuk perempuan yang tidak  bebas. Bertindak berdasarkan kemauan orang lain.”

Saya yang mengenakan rok karena kemauan saya sendiri merasa tersinggung dengan pernyataan itu.
Bukan karena gak mau di samain sama mahasiswi kampus sebelah yh. Saya tidak suka di cap hanya dari penampilan saja.

Saya rasa DW paham akan hal itu. Toh dia mengenakan pakaian longgar karena dia nyaman.
Saya pun demikian. Walau pakai kemeja, rok dan jilbab besar bukan berarti saya gak nyaman.
Saya gak bakalan pake baju itu kalo, saya gak nyaman. Toh, udah dibebaskan mengenakan busana apa aja. 

Saya mau pake baju ini, yah harus ini. Ngapain saya ikut-ikutan yang lain. Sekalipun pakaian yang saya kenakan di pandang negatif, saya gak peduli.
Sama halnya pakaian yang dikenakan DW, mungkin orang luar akan menganggapnya pembangkang, merusak citranya sebagai perempuan.
Tapi apa salahnya, dia nyaman dengan itu. Begitu pun saya.

Stigma negatif tidak pernah meninggal kita perempuan. Selalu ad pihak yang ingin mengatur pakaian, sikap, bahkan cara kita berbicara.

Terkadang pihak itu adalah orang asing, orang terdekat dan sesama perempuan itu sendiri.

Saya berasumsi, mungkin saja DW mau mengajarkan saya akan makna kebebasan yang dia pahami.

Apesnya, DW tidak mengenal saya. Dia hanya tau saya dari luar. 

Saya diam-diam saja mendengar dia berceramah panjang lebar tanpa berniat menanggapinya. 
Suatu hari nanti dia akan mengerti juga.

Saya tidak pandai berdebat, saya juga tidak pintar memenangkan perdebatan. Saya lebih suka diam, dipandang bodoh dan tak tau apa-apa.
Toh, banyak untungnya. 

Salah satunya, melihat sudut pandang orang lain. Serta menikmati ocehannya. Walau yang jadi korbannya adalah kita sendiri. Biarlah.




Komentar

Postingan Populer