Imperfect parenteen: Tarik Ulur Pengasuhan Remaja


"Tidak ada orang tua yang sempurna, begitupun dengan anak. Tetapi masalahnya ketika anak terlihat tidak sempurna, orang tua menjadi kecewa. Sudah siapkah orant tua memiliki anak yang tidak sempurna?" (Imperfect Parenteen, hlm 176)

Barang kali itu kutipan yang mewakili diri saya dan orang tua. Cuman mungkin situasinya kebalik. Apa saya sebagai anak bisa menerima ketidaksempurnaan orang tua saya? 

Oke, saya menempatkan diri saya sebagai remaja, seorang anak. Serta sebagai kakak yang mendidik dan mengasuh adik-adiknya( Asa, Nurul, dan Kiki). Itu sedikit penjelasan yah buat kalian. Hehehe.

Kenapa saya membeli dan membaca buku ini?
Sebagai langganan penerbit eabooks saya jarang absen membeli buku keluaran terbaru yang lagi pre-sale. Selain alasan harganya murah, dengan badget 100rb bisa dapet 3 buku. Gimana saya gak tergiur. 

Buku imperfect parenteen: Tarik Ulur Pengasuhan Remaja termasuk buku bertema parenting pertama yang saya baca. Saya penasaran sekaligus takut dengan buku ini.
Alasannya? Saya udah sadar diri duluan kalau pola pengasuhan orang tua saya terhadap anak-anaknya tidak bisa dikatakan sempurna. Maksud saya begini.

Coba liat temen saya Si A, orang tua nya memberi perhatian lebih terhadap dirinya. Memberi kebebasan kepada anaknya. Ditambah lagi latar belakang pendidikan kedua orangtuanya. Ibunya guru, bapaknya polisi. Waduh, mampus deh orang tua saya yang hanya seorang URT dan petani ini.

Bukan saya insecure, tidak tau bersyukur dan cenderung membandingkan orang tua. Tapi emang bener sih, saya membandingkan orang tua saya. 

Dewasa ini saya baru mengerti mengasuh anak tak semudah yang saya bayangkan. 

Lalu apa saya kecewa saat membaca buku ini?
Gak juga sih.

Dalam buku ini saya diberi gambaran bagaimana mbak Myra Anastasya mengasuh kedua anaknya Keke dan Nai. Bagaimana ia menghadapi mood swing kedua anaknya, menjadi pendengar yang baik, bahkan menjadi teman diskusi.

Kalau mau dibandingkan dengan keluarga sendiri, menghadapi mood swing anak emang gak gampang sih. Semenjak kehadiran Asa, Kiki dan Nurul di rumah saya lebih sering mengamati perubahan mood mereka serta perilaku yang kian hari kian berubah. 
Jadi pendidik atupun orang tua menang susah. Susah banget. Di tambah lagi kalau pendidiknya atau pengasuhnya juga moodyan. Mampus deh.

Saya termasuk moodyan. Wajar aja sih, orang tua saya susah menghadapi saya. Syukur-syukur kalau saya nurut. Saya termasuk penurut sih. Walau kadang gak bisa dipastiin respon saya terhadap sesuatu itu bagaimana, dan orang tua saya harus siap siaga menghadapi perilaku saya yang tak terduga itu. 
Emang gak gampang jadi orang tua.

Mbak Myra memberi banyak tips dalam buku ini. Dari cara berkomunikasi dengan remaja, jadi orang tua jangan kudet kan zaman sekarang remaja udah bisa memperoleh informasi dari mana aja. Jadi orang tua harus pinter-pinter tarik ulir anaknya. Hehehe.

Buku ini dibagi atas 4 bagian, dan tiap bagian memiliki beberapa tulisan.

Bagian yang paling saya suka yaitu bagian dua.
Alasannya? 
Bagian Dua:Pengasuhan Anak Puber. 
Pada bagian ini mbak Myra bercerita saat anaknya Keke yang mengalami mimpi basah,serta kekhawatirannya akan haid pertama Nai. Yang merupakan pertanda mereka sudah memasuki fase puber. Ada perasaan sedih, baper menghadapi situasi ini. Seolah anak udah dewasa tapi masih anak-anak di mata orang tua. Aduhh..

Bagi saya pendidikan atau memberi pahaman tentang mimpi basah dan haid pada anak memberi mereka pengetahuan serta bagaimana menanggapi ketika hal tersebut terjadi. Supaya anak gak terkejut.

Kebanyakan orang akan berpikir negatif akan perubahan ini bahkan enggan membicarakannya. 
Jadi orang tua gak boleh tabu dong yah.

Saya bersyukur saya dibesarkan di keluarga dominan perempuan jadi gak begitu terkejut dengan haid pertama lantaran sudah pernah melihat sendiri haid itu bagaimana. 
Ditambah, gak ada stigma negatif terkait haid itu. Intinya saya bersyukur.

Dewasa ini, orang tua saya belajar banyak terkait perkembangan anak. Terutama ibu. Suka banget tuh cerita gimana dia merawat dan membesarkan saya dan Win-win adik saya. 
Saya punya dua adik kandung, keduanya laki-laki. Win-win yang beda 2 tahun dari saya dan Asa yang beda 20 tahun dari saya.

Saat membaca ini saya jadi kepikiran adik kandung saya Asa, usianya baru 11 bulan sih tapi saya jadi was-was jadinya. Gimana yah kalau besar dia mimpi basah? Kan saya perempuan mana tau mimpi basah. Apa Win-win bakal berbagi cerita sama dia?
Bagaimana pula dengan Kiki yang sudah kelas 5 SD, kan bentar lagi puber. Malah makin hari makin aneh aja tingkahnya. Was-was deh saya.

Terus Nurul, yang pernah saya ajar mengenai haid apa siap menghadapinya nanti. Atau jangan-jangan gak terima dengan keadaan itu?
Saya bilang begitu lantaran dia sering ngetawain saya kalau saya sedang datang bulan. Katanya saya ngompol di celana jadi harus pake popok.
Jelas-jelas itu namanya pembalut, tapi dia ngeyel banget. Tipe anak keras kepala, sama kayak Kiki adik sepupu saya. 

Saya sudah pernah membahas mengenai proses terjadinya kehamilan pada mereka, waktu itu tante Ina(adik kelima ibu) lagi hamil makanya mereka nanya gimana ada bayi di perut. Tapi namanya anak-anak, cuma "oo" aja.

Saya jadi introspeksi diri lagi. Kayaknya harus lebih maksimal ngajarin mereka.

Wkwkwk. Saya Lagi-lagi harus bersyukur mbak Myra memberi tips menghadapi anak yang mengalami mimpi basah dan haid pertama. 
Walau saya juga harus memutar otak karena karakter tiap anak berbeda.

Selama proses membaca buku ini, saya lumayan sering introspeksi diri sebagai seorang anak. Mengingat perubahan apa saja yang terjadi pada diri saya dan bagaimana orang tua saya menghadapinya. 

Gak gampang emang. Saya yang keras kepala, gak mau denger pendapat orang lain. Ditambah saya kadang gak mau di atur dan orang tua saya yang penuh dengan kekhawatiran. 
Kalau dipikir orang tua saya gak begitu memberi penekanan pada anaknya, yah pernah sih waktu masuk bimbingan belajar dan hasil rapor saya malah rendah.

Ibu saya jadi ngomel-ngomel deh. 
Padahal kan saingan saya banyak, lagian saya gak pandai dalam semua pelajaran. Ibu saya paham sih, cuman yah gitu.

Masalah ini pun juga dibahas di buku ini. Katanya hargai usaha anak, mau jelek atau bagus orang tua harus berterima kasih pada anak atas usahanya. Gitu loh. Ini dibahas di bagian 4.

Mungkin orang tua saya gak sempurna dalam mendidik, begitupun dengan saya anaknya. Saya tidak sempurna.

Tapi saya mencoba belajar untuk menjadi pendidik dan pengasuh yang baik bagi adik-adik saya. Makanya saya baca buku ini. 

Buku ini membantu banget sih, sisa bagaimana kita mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari.


Saya merekomendasikan buku ini untuk orang tua, pengasuh, pendidik, pasangan yang hendak menikah atau ingin memiliki anak serta remaja sebagai seorang anak. 

Jadi jangan berpikir mentang-mentang ini buku bertema parenting maka yang seharusnya membaca hanya orang tua saja. Gak sama sekali. Semua bisa membacanya. Pliss jangan egois yah.

Itu aja review dari saya. 
Terimakasih sudah membaca.

Komentar

Postingan Populer