sebab kita semua gila seks





"Apa perempuan yang membicarakan seks berarti dia perempuan nakal? Gampang di dapet? Gampang di ajak bobo cantik?"

Pertanyaan itu mengepung di kepala saya selepas perdebatan panjang dengan seorang teman lelaki Menyoal seks. 
Saya tak terima dia mengajak saya ngewe, menanyakan ukuran payudara saya dan lain sebagainya. Bahkan menelpon saya sambil terus berbicara kotor. Saya tak usah membahas apa yang ia katakan. Cukup tau saja.

Ini bukan kali pertama saya dapat perlakuan tidak mengenakkan dari lelaki.sudah beberapa kali sampai saya takut pada satu hal yaitu VC dengan teman lelaki saya. Lantaran seorang yang saya kenal baik VC saya namun sialnya bukan wajah yang saya liat, melainkan kont*l. Asu banget kan? Saya jadi trauma di ajak VC.

Di saat saya mulai bercerita akan kesialan saya ini, respon yang saya dapat dari orang sekitar cenderum menyalakan saya.
"Kamu sih yang mancing."
"Makanya kurang-kurangin dong ngomong seksnya." Dan seterusnya.

Apa saya kapok? Tidak. Saya belajar diam-diam. 
Makanya saya antusias begitu buku ini diperkenalakan oleh EAbooks. Buku Sebab Kita Semua Gila Seks yang ditulis oleh Ester Pandiangan.

Saya tak beli satu buku saja melainkan sepasang. Buku ini terbit bersamaan dengan buku Sebelum Perempuan Bercinta karya Dea Safira (nanti saya review).

Antusiasme saya menjadi-jadi setelah bukunya sampai ditangan saya.

Buku sebab Kita Semua Gila Seks terdiri dari empat bab, yaitu pertama, Akibat Menabukan seks. Kedua, Menikmati Seks Setara. Ketiga, Penyakit Kelamin Mengintaimu. Dan terakhir, Bagaimana Laki-Laki Memburu Seks. 
Masing-masing bab terdiri dari beberapa judul tulisan.Buku ini juga memuat beberapa gambar sketsa erotika karya mbak Ester Pandiangan sendiri loh. Keren kan?

Buku ini bukan buku Ilmiah yang penuh teori, malahan buku ini memuat pengalaman si penulis terkait seks itu sendiri. 

.........
Salah satu tulisan di bab 4,Tato+Rokok+Minum+Suka Ngomong Seks=Gampang Diewe menarik perhatian saya. Kenapa? Karena saya sering ngomong seks.

Mbak ester mencoba menjelaskan bagaimana orang-orang beranggapan perempuan yang minum, merokok dan bertato itu gampang diewe. 

Bagi mbak Ester sendiri punya tato dan minum bukan berarti perempuan tersebut pengen di ajak tidur. Ada beberapa suku di Indonesia melangengkan tato sebagai bentuk kebudayaan tanpa peduli gendernya. Namun pandangan orang sekitar terhadap tato tak sama dengan mbak Ester, malahan ada yang mengutuk mbak Ester akan masuk neraka lantaran bertato, diperkuat dengan sabda dan ayat dari kitab suci.

Saya gak ngerti kenapa kita suka sekali mengutuk orang lain, mengatur orang lain dengan mengunakan dalil agama tertentu? Apa segitunya yah manusia pengen jadi Tuhan. Eh maksud saya sebegitu fanatiknya kah dengan agama. Heheeh...

Setelah menerbitkan buku pertamanya "Akibat Menabukan Seks" Secara mandiri, pandangan orang-orang sekitar pada mbak ester makin menjadi saja. Dianggap gampang diewe lantaran ia merokok, minum, bertato dan ngomong seks. Aduh. 

Saya seketika inget dengan diri saya sendiri. Bagaimana orang lain memperlakukan saya begitu buruk lantaran saya suka ngomong seks. 
Mereka tak tau saja kenapa saya membicarakan seks. (Baca tulisan saya: membicarakan seks)

Kalau kalian mengenal saya di kehidupan nyata. Barang kali yang saya katakan akan dipertanyakan. "Sejak kapan lo ngomong seks Mel?" Hehehe

Sebagai perempuan yang dinilai memiliki image baik-baik lantaran saya memakai jilbab besar, lebih tepatnya sih dipaksa jadi perempuan baik-baik. Padahal 'baik' menurut mereka belum tentu baik bagi saya. Membicarakan seks dianggap tak sopan.
Namun saya membicarakan seks secar diam-diam.

Saya membicarakan seks dengan teman-teman yang ingin saja, kebanyakan lelaki sih. Jika ditawari saya mau-mau saja. Membicarakan seks yah bukan melakukannya.

Namun lantaran perilaku mereka(lelaki bejat) udah kelewat batas jadi saya memilih baca buku saja, belajar dan kalau bisa kembali mengedukasi perempuan tentang reproduksi .

Lanjut, tulis dalam buku ini yang menarik perhatian saya sebetulnya banyak sekali. Kalau bisa saya katakan hampir semua.
Mungkin saya akan membocorkan 2 lagi ke kalian, tulisan yang menarik perhatian saya.

Terinfeksi Herpes, Bonus Kutil Kelamin. Pada tulisan ini mbak Ester mencoba membahas bagaimana perempuan yang berhubungan seksual lebih takut dengan kehamilan dibanding takut dengan IMS(infeksi menular seksual). Dimana perempuan cenderung melakukan hubungan seksual tanpa pengaman dan beresiko. Dan terlalu terbawa perasaan.

Saya ingat betul penjelasan Ni Made Jedri saat membawakan materi di kelas sex education yang saya ikuti tahun lalu. Perempuan lebih beresiko jika melakukan hubungan seksual pranikah, perempuan akan melakukan segalanya agar lelaki yang menidurinya tak pergi. selepas melakukan hubungan seksual perempuan merasa dirinya tak berharga lagi, jadi tindakan mereka kadang nekat melakukan hal ekstra bahkan bisa sampai melukai diri sendiri.  Tips dari bu Made sih, kita harus membantunya, menyakinkan dirinya bahwa dia berharga. 
 
Lanjut, ada beberapa alasan kenapa perempuan tak mau memakai pengaman saat melakukan hubungan seksual yaitu kesetiaan. Jujur, saya sempet berpikir hal yang sama. Jika suatu saat nanti saya berhubungan seksual entah setelah menikah atau sebelum itu, saya gak mau pake kondom. Kan saya setia orangnya. 
Saya lupa, berhubungan seksual melibatkan dua orang, bukan saya sendiri. Saya mungkin setia tapi dia...

Buku Sebab Kita Semua Gila Seks seolah menampar saya tepat di muka dan kena. Rasanya sakit banget.
Ternyata saya bodoh juga yah jadi perempuan.

Menurut mbak Ester, lebih baik mengunakan pengaman selama melakukan hubungan seksual karena kita gak tau riwayat orang yang kita jadikan partner seks kita ini. Jangan sampai kita ketularan. Sekalipun partner kita sudah menjelaskan riwayat seksnya, lebih baik periksakan ke dokter untuk lebih amannya. Jangan sampai dia bohong. Inget, gak selamanya kelamin yang keliatan bersih itu bebas penyakit sayang.

Terakhir, tulisan Akibat Menabukan Seks yang berada di barisan paling awal buku ini. Mbak ester membagikan cerita betapa irinya dia dengan keponakannya Tasha yang begitu lancarnya membicarakan seks dengan ibu dan teman-temannya. Tak seperti masa kecil mbak Ester yang penuh dengan larangan tanpa penjelasan. contohnya saja ketika ibunya meminta agar dirinya menjaga jarak dengan lelaki ketika ia mulai mengalami menstruasi pertama tanpa dibarengi penjelasan mengapa lelaki harus di hindari? Sebegitu berbahaya kah laki-laki? Tidak ada penjelasan. 
Barangkali bukan mbak Ester saja tapi juga kita. Kita yang tidak di beri jawaban pasti atas pertanyaan seputar seks, seputar reproduksi lantaran dianggap tabu, tak baik untuk dibicarakan. Hal ini tidak terlebas dari moral dan juga agama. Dimana perempuan sendiri dilarang, tidak diperbolehkan membahas persoalan seksual. Berbeda dengan lelaki yang diwajarkan membahas seks. Padahal pengetahuan akan seks penting untuk kedua belah pihak. Bukannya timpang.

Ada pengalaman yang bikin saya miris adalah ketika ada seorang teman sesama jurusan kesehatan tidak tau bahwa bayi keluar melalui vagina. Lebih lagi adalah mereka gak tau ada lubang saluran kencing. Mereka cuma mengenal lubang anus saja. Ampun deh saya. 
Saya harap banget perempuan bisa lebih cerdas, sekalipun pernah melakukan kesalahan gak apa-apa, jadiin elajaran aja supaya lebih baik ke depannya.

Terakhir ini kutipan favorit saya di buku ini:
"Aktivitas seks harusnya merupakan transaksi personal yang dilakukan atas persetujuan bersama, tanpa manipulasi. Apalagi berharap bisa ngeseks dengan modal segelas kopi kekinian?"

Mungkin itu yang bisa saya bahas dari buku ini. Saya harap setelah membaca ini kalian meminta belajar tentang seks. Dan gak tabu lagi.

See U...

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer