Menikah untuk memenuhi kebutuhan biologis?


"Menikah itu sama dengan ngewe halal Mel." Pernyataan itu datang dari seorang teman baikku. . 

Pernyataan menikah sama saja dengan ngewe halal, sempat saya tertawakan, bagi saya itu hanya lelucon yang dibuat-buat.

Belakangan, setelah saya mulai mengekspresikan diri mengenai pahaman saya tentang seksualitas, feminisme, dan problem pernikahan. Dua tiga lelaki kerap mengajak saya berdiskusi. Atau sekedar tanya jawab. Saya kembali mempertimbangkan opini temen saya itu.

Tak jarang diantara mereka(yang mengajak saya diskusi) kalau boleh jujur yah merasa aneh melihat saya. Saya sepeti the other, manusia lain kalau kata Simone. Penyebabnya hanya satu, saya belum memikirkan untuk menikah atau dalam kacamata mereka saya menolak pernikahan.


"Manusia mana yang bisa tahan tidak menikah." Ucap salah satu dari lelaki yang berdiskusi dengan saya.
Saya sempet bingung dengan ucapannya.

Di Korea Selatan sendiri angka pernikahan dari tahun ketahun justru menurun drastis, bahkan ada yang tidak ingin menikah.
Perlu diketahui selama sama industrialisasi, negara ginseng tersebut terbilang maju dan termasuk negara dengan penghasilan tinggi ke empat di Asia. Kalau dipikir pake akalnya kita, kalau dah kaya kenapa gak nikah atau perbanyak istri...upst.
Saya harus katakan orang di korsel sana terbilang perhitungan. 


Di korea selatan kamu harus punya rumah dulu, kendaraan, pekerjaan yang layak, dan uang yang cukup pastinya untuk keluargamu.
Eehhtts jangan salah yah, uang yang dimaksud disini mulai digunakan dari acara pernikahan yang terbilang mahal bingit. Biaya sewa rumah, uang kebutuhan saat istri hamil, biaya persalinan, sekolah anak, biaya makan sehari-hari, listrik, pulsa dll wkwkwk...

Intinya mereka memikirkan segala hal yang orang Indonesia gak pikirin.
Orang Indonesia mah kalau udah suka, keluarga udah mendesak, yaudah nikah. Mumpung masih muda jadi nikah cepat-cepat. Gak peduli deh tu anak masih sekolah, usianya berapa, udah siap secara mental dan finansial tidak. Gak semua orang Indonesia kek gitu tapi banyak.

Kata nenek saya mah, "kalau udah yang mau, terima aja. Gak baik ditolak."Seandainya itu uang atau makanan enak saya akan terima dengan senang hati. Sayangnya, ini menyangkut keberlangsungan hidup saya kedepannya dan pernikahan bagi saya tidak seindah negeri dongeng ala kartun berbie, perlu dipikir masak-masak.

Saya mempertanyakan maksud tidak bisa tahan untuk menikah. Saya mendengarkan dengan seksama. Kemudian menyahut.

"Oh itu bukan tak tahan ingin menikah. Tapi tak tahan berhubungan seksual."

"Itu kan kebutuhan biologis." Tangkasnya.
Saya benci sekali dengan alasan satu ini, seolah hasrat seksual, nafsu tidak bisa ditahan.
Lapar aja bisa lo tahan, masa kelamin lo gak bisa?

Saya paham lapar dan hasrat seksual berbeda. Namun jika ditelaah, kebutuhan akan makanan jauh lebih penting dari hasrat seksual. (Saya tau sebentar lagi kalian yang membaca ini akan menghina saya, meledek saya tidak normal.)

Saya percaya bahwa yang membedakan manusia dengan hewan adalah kepemilikan akal.

Anjing ketika ingin berhubungan seksual, di manapun tempatnya ia berhasrat di sana pula dia lakukan. Gak ada tuh anjing yang bersembunyi kalau lagi enak enak. Tidak seperti manusia, cari tempat aman, yang gak bisa diliat manusia tapi Tuhannya liat.. Wkkwkwk.

Tak dipungkiri memang, banyak manusia yang tidka bisa menahan hasrat ingin bercinta(dibaca:berhubungan seksual). Dan menikah adalah jalan keluarnya.
Saya tidak mempermasalahkan hal itu, itu niat yang baik. Dari pada memperkosa perempuan yang tidak bersalah kemudian memberi alasan atas perilaku bejat sendiri bahwa, tak bisa menahan hasrat seksual atau memberi alasan bahwa perempuan tersebut berpakaian minim.

Namun menjadikan pernikahan sebagai wahana melampiaskan hasrat seksual bukankah menganggu makna dari pernikahan itu sendiri.

Pernikahan bukannya menyatukan dua insan yang ingin hidup bersama? Bukan dua orang yang ingin berhubungan seksual dengan lebel halal didalamnya. Eh kok kayak makanan yah ada lebel halalnya gitu.

Mungkin di bagian akhir(karena saya sudah bingung mau bilang apa sekarang) saya ingin memberi tips menahan hasrat untuk coli, eh maksud saya hasrat berhubungan seksual yang katanya tak terkontrol itu.

Puasa dan perbanyak istighfar
Puasa banyak manfaat nya loh, selain melatih kesabaran, tidak mudah marah, kesadaran akan penderitaan saudara kita yang tak mampu membeli makan sesuap dalam sehari. Puasa juga bisa digunakan untuk mengontrol nafsu, terutama nafsu seksual. sebagaimana pengalaman saya ketika puasa, saat kepala saya mulai memikirkan hal yang aneh saya akan lebih banyak beristighfar dan berusaha mengalihkan aktivitas saya agar tak berpikir kotor kembali. Lagian berpikir kotor bukannya bisa membatalkan puasa, saya gak mau dong puasa saya batal cuma karena satu hal doang.

Perbaiki niat dan tujuan menikah.
Hal ini penting untuk dipikirkan, kalau ditanya pentingnya apa, lah mana saya tau.
Bukankah ketika melakukan sesuatu harus ada niat yah, dan pasti ada sesuatu yang ingin di capai.
Lo jalan kayak orang gak jelas aja pasti ada tujuannya, mana mungkin gak ada. Tujuannya apa lagi kalau bukan menghilangkan kebosanan.
Begitupun dengan pernikahan. Hal serius seperti itu  dilakukan atas dasar pelampiasan hasrat seksual semata? Ingin menghindari zina? Terus kalau udah puas dan jatuhnya bosen mau ngapain selanjutnya? Nikah lagi? Itu sama saja kau memperlakukan pasanganmu seperti pelacur.
Pelacur saja punya hak untuk diperlakukan dengan baik. Masak pasanganmu tidak.

Dan tips terakhir, kesiapan.
Perlu di ingat, selain fisik, psikologis dan finansial harus terpenuhi sebelum menikah.
Ketidakmampuan mengendalikan emosi bisa memicu terjadinya pertengkaran yang bisa berujung pada kasus KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). KDRT menimbulkan efek traumatik pada anak dan bisa mempengaruhi pola perilaku anak ketika dewasa. Dari pihak Ibu atau istri pun bisa memicu dirinya untuk melakukan tindakan seperti bunuh diri.
Salah satu penyebab pertengkaran paling umum dalam keluarga adalah masalah finansial. Ketika hanya berbekal ijazah yang ada, kerja serabutan, gaji tak menentu, harga kebutuhan makin meningkat. Sewaktu istri sudah meminta uang bulanan untuk beli beras atau susu dan tiba-tiba anda naik darah gegara stress mikirin perkejaan maka jadilah...


Saya gak usah panjang lebar, intinya ketika nafsu mu saja tidak bisa kau kendalikan, apa kabar dengan emosimu? Masih bisa ditahan kah?? Jika belum bisa lebih baik tidak usah buru-buru menikah. Menikah bukan perlombaan kok. 


Saya minta maaf yah jika ada yang tersinggung dengan tulisan saya. Hihihi

Komentar

Postingan Populer