perempuan tidak perawan dan janda
"Janda dan perempuan tidak perawan sebenarnya sama saja, mereka sudah berhubungan seksual. Bedanya, perempuan tidak perawan kehilangan keperawanan tidak dibarengin seremoni pernikahan.lantas ada tidaknya perbedaan tersebut, apa kita harus mendiskriminasi mereka?"
Saya memutuskan menulis ini akibat keresahan saya sendiri dan beberapa teman perempuan yang sudah berhubungan seksual diluar pernikahan.
Baik yang berhubungan seksual atas dasar kemauan sendiri, dipaksa, terpaksa dan lain sebagainya.
Mereka kerap mendapat perlakuan tidak mengenakan dari lelaki(lelaki yang mengetahui mereka tak perawan lagi), ada yang dengan mudah dipegang dan diraba bagian tubuh secara gamblang oleh lelaki. Ada pula laki-laki yang enteng mengajak mereka berhubungan seksual lantaran status mereka yang tak perawan.
Dan entah, sampai detik ini belum ada laporan mereka dipaksa berhubungan seksual, saya harap sih hal itu tidak terjadi.
Walau dalam hubungan mereka dengan kekasih mereka, yah harus saya katakan, eksploitatif.
Pasangan mereka demikian, meminta berhubungan seksual dengan alasan si perempuan sudah pernah melakukan hubungan seksual dengan lelaki lain atau mantan pacarnya. Kerap ada ancaman seperti diputuskan atau dilaporkan ke keluarga si perempuanperempuan jika si perempuan menolak.
Bukan hanya teman-teman saya tapi banyak perempuan lain di luar sama yang mengalaminya.
Saya pun mendapat perlakuan yang sama, mungkin akibat keseringan membahas masalah seksual dan saya lebih sering berkerumun dan nongkrong sama teman lelaki saya. Jadi saya di anggap gampangan.
Saya juga kerap di sodorkan rokok. Itu bagus. Menyodorkan rokok kepada teman perempuan seolah mendobrak stigma " hanya laki-laki yang merokok". Tapi maaf saya tidak merokok.
Heheeh bukan itu, tangan atau paha saya sering disambar oleh teman lelaki. Yang jujur saya gak nyaman. Mereka lupa, ini tubuhku bukan milik mereka.
Kekasih saya pun ikutan mencurugai saya, pagi-pagi saya telpon dia kebetulan saya minum pas dia angkat telponnya.
Saya bicara dong dengan mulut penuh, eh dia kira saya cowo. Di alihkan lah ke panggilan video. Astaga. Satu ruangan saya kasih liat dong.
....
Bukan dari pihak lelaki saja. Sesama perempuan pun begitu.
"Kamu juga sih gak tobat-tobat. Udah pernah gitu masih aja deket sama lelaki. Istighfar."itu salah satu pernyataan yang didapat ketika kalian curhat masalah pelecehan yang kalian alami.
.....
Alasan lainnya kenapa saya menulis ini.
Saya tertarik dengan buku "Life As Divorcee" terbitan EA Books yang tanggal 11 januari nanti mulai pre-order. Bukunya belum terbit tapi ada kutipan dari buku itu yang sempat di publish, membuat saya tertarik setengah mati pada buku itu.
Sempat saya jadikan story di WA saya tapi sorry, kutipannya udah saya hapus dari hp.
Inti dari kutipan itu adalah seorang Divorcee sekalipun dianggap gampangan dan di pandang muda berhubungan seksual dengan lelaki manapun dengan alasan sudah pernah berhubungan seksual sebelumnya.
Seorang teman perempuan juga pernah mengomentari story saya itu, iya mengatakan "true." Yang berarti benar dalam bahasa indonesia.
Saya terpikir dengan teman-teman yang tidak menikah namun sudah pernah berhubungan seksual.
Makanya saya nulis ini. Rapi mungkin ditulisan ia saya lebih fokus ke Divorcee.
Janda atau bahasa Inggris Divorcee adalah istilah untuk perempuan/wanita yang bercerai baik cerai kawin atau cerai mati.
Perceraian bisa diajukan oleh pihak suami atau istri, bisa pula dari kedua belah pihak bersetuju akan hal itu.
Alasan perceraian beragam,kita tak perlu tau atau sok tau akan urusan orang lain. Cukup kita liat saja, tidak usah banyak bicara jika tidak diminta.
Tapi jujur, saya memberi apresiasi lebih kepada perempuan yang berani bercerai atas dasar kesadaran sendiri atas penderitaan yang ia alami dalam rana rumah tangga. Kamu luar biasa.
Bukan maksud saya mengajak perempuan yang sudah menikah berbondong-bondong bercerai dan menjadi janda.
Banyak kiranya perempuan yang mengalami diskriminasi sampai kekerasan dalam rumah tangga namun mereka memilih untuk tidak bercerai. Salah satu alasannya,yah bercerai dianggap aib keluarga, dan apa bila bercera ia tak mampu memberi nafkah kepada anak apabila hak asuh diserahkan padanya. Banyak dari mereka yang memilih mempertahankan rumah tangganya walau menderita.
Saya pun ikut salut dengan perempuan yang bertahan. Bagiku mereka bertahan atas dasar empati mereka akan keluarga dan anaknya. Tapi saya tekankan, bercerai tidak salah untuk dilakukan toh kalian sudah berusaha bertahan. Kemampuan kalian sudah sampai pada batasnya, tidak ada yang perlu di sesali. Justru kalian harus bangga, kalian sudah menolong diri kalian sendiri.
Memutuskan menjadi janda bukan perkara mudah, selepas itupun berbagai stereotip negatif yang harus dihadapi.
"Janda merupakan ancaman karena ia dianggap sudah mengenal nikmatnya hubungan seks, sudah mengenal tubuh laki-laki.Janda dicurigai dapat mengganggu suami-suami orang, apalagi jika ia masih muda, dan cantik."(Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan, hlm 216)
Kalau kalian pernah nonton sinetron, kadang janda digambarkan sebagai perempuan berwatak jahat, licik dan penggoda.
Mereka akan melakukan segala cara untuk mendapatkan suami orang lain.
Tapi kalau kita mencoba berkaca di realitas, banyak tuh perempuan yang memilih menjanda setelah bercerai, dan mampu loh menafkahi anaknya sendiri. Tak perlu ada drama-drama merebut suami orang. Mereka mandiri kok.
Bukan cuma di sinetron perempuan dalam narasi berita pun begitu, coba deh ketik kunci janda di Google, yang naik pasti persoalan perselingkuhan, pelayanan seksual, perceraian. Dam lain sebagainya.
Adapun narasi yang terdengar manis tapi sebenernya seksis dan hanya meng-objektif-kan perempuan. Hanya memandang perempuan dari tubuh dan muda nya. Tanpa melihat prestasi mereka.
Ujung-ujungnya hanya status janda mereka yang di highlight.
Membahas masalah perselingkuhan, saya ingin membahasnya sedikit.
Kita lebih berfokus pada status perempuan yang menjadi selingkuhan, kemudian mencapnya sebagai pelakor. Di sisi lain si istri dari laki-laki, kita anggap tidak bisa menjaga suami, tidak bisa rawat diri.
Padahal, laki-laki kan bukan hewan, bukan pula bayi Yang harus di jagain.
Kita fokus mencari perempuan mana yang salah, kita lupa hal ini gak bakal terjadi kalau laki-laki nya gak bertindak.
...
Ok, back to topic.
Ada satu joke yang saya tidak mengerti berkaitan dengan janda.
Temen saya, di tongkrongan, kerap kali jika bertemu teman lelakinya pertanyaan "adakah janda?" Simpang siur saya dengar.
Di lingkungan keluarga pun begitu, salah seorang anggota keluarga menelpon kerabat yang jauh di sana, tau pernyataan apa yang keluar. "Paman A lagi cari janda di sana."
Jujur saya gak ngerti maksudnya apa coba?
Kenapa janda di cari dan kenapa pertanyaan "adakah janda?" Seolah jadi pembuka yang menyenangkan untuk sebuah obrolan? Maksud saya, kenapa gak nanya kabar gitu? Udah makan belum? Kan enak.. Lah ini nanya janda.
Saya paham sebetulnya, perempuan yang berstatus janda dianggap gampangan, sebagaimana perempuan yang tidak perawan.
.....
Saya tidak pernah menanyakan maksud dari joke itu ke mereka. Saya hanya diam.
Pernah saya curi dengar jawaban segerombolan lelaki si tongkrongan, atas pilihan "gadis atau janda."
Gadis yang dimaksud adalah perempuan yang belum pernah berhubungan seksual.
Sontak ngelak ketawa terdengar.
Lelaki pertama menjawab "Janda sih. Soalnya(gue lupa dia ngomong apa,intinya muter-muter gak penting).....dan lebih ahli." Nah kan, selangkangan otaknya.
Kata ahli digunakan untuk mengantikan kata berpengalaman. Berpengalaman dalam rana seksual pastinya. Kont*l sialan.
Lelaki di samping lelaki pertama, ikut bersuara. Penampilannya lumayan rapi dibanding yang lain, gayanya pun sederhana. Agaknya dia cerdas. Tapi gak tau, apa otaknya juga berisi selangkangan? Mari kita dengar
"Aku sih yang masih perawan..."
"Sok suci luhh..."timpa lelaki bertubuh gemuk yang sedari tadi berdiri alias gak kebagian tempat duduk.
"Siapa coba yang mau nikah sama bekas orang." Jawabnya santai.
"Dasar keparat, lo pikir kita apa? Barang? Pake acara bekas² segala. Sialan lu." Umpat ku tiba-tiba. Dalam hati tapi. Hehehe.
Ku lontarkan pertanyaan pilih perawan atau janda pada seorang teman dekat.
"Yah pasti janda lah Mel."
"Kenapa emangnya?"
Cukup lama saya menunggu jawabannya.
"Yah, gampang di dapat lah. Lagian uang maharnya gak banyak-banyak amat."
Lah apa hubungannya coba???
Dari penjelasan kawan lelaki yang lagi dan lagi berbelit belit, panjang kali lebar, kiri kanan dan intinya cuma satu.
Perempuan yang berstatus janda diharapkan tidak perlu meminta mahar terlalu banyak karena sebelumnya sudah pernah diberi oleh suami sebelumnya di pernikahan sebelumnya.
Mungkin itu pula alasan paman A memilih mencari perempuan berstatus janda untuk di nikahi.
Walau sebetulnya saya tidak setuju akan hal itu. Bagi saya sendiri mau sudah menikah sebelumnya atau tidak, mahar yang di berikan tidak boleh kurang apa dengan alasan si perempuan sudah bekas orang. Maaf yah,perempuan yang berstatus janda bukan barang bekas.
Jika mereka(janda) beralasan menikah lagi akibat tak mampu mencari nafkah sendiri harusnya sebagai lelaki sadar diri dan memenuhi kebutuhan itu, yang pasti sesuai kemampuan diri sendiri. Jangan beralasan bahwa si perempuan sudah janda jadi tak mau menafkahi.
"Syukur-syukur ada yang mau nikahi dia." Tanganku gatal ingin menampar bibirmu teman.
Saya jadi berpikir, jika perempuan berstatus janda saya seperti ini bagaimana dengan perempuan yang tidak perawan.
"Pilih perempuan yang tidak perawan atau janda?"
"Ngawur kamu yah."
Saya tidak mengerti apa yang sulit dari kedua pilihan itu. Saya rasa sama saja. Janda sudah pernah berhubungan seksual.
Dan untuk lelaki yang berotak selangkangan, bukan kah mereka sama saja yah? Sudah melakukan hubungan seksual bukan? Kenapa kalian tidak memberi lebel Ahli/berpengalaman sebagai mana yang kalian beri pada janda?
Iya, karena kita berpandangan bahwa perempuan yang tidak perawan jauh lebih kotor. Di ibaratkan menikahi dengan perempuan yang tidak perawan sama saja melompat ke kolam lumpur kubangan babi.
Jika menikah dengan perempuan tidak perawan hanya akan membawa aib saja. Lelaki yang menikahinya bisa di pandang sebagai lelaki yang menyetubuhi perempuan tersebut diluar nikah tapi baru bisa tanggungjawab sekarang.
Kalau janda masih bisa di pertimbangkan. Iya karena sebelumnya mereka pernah menikah.
Ada lembaga yang memayunginya, lagi, lelaki kerap dianggap menolong janda tersebut ketika ia menikahnya. Padahal tidak sama sekali.
Begitulah.
Kita selalu mempertanyakan keperawanan, status si perempuan, tapi kita lupa kita tak pernah bertanya apakah lelaki yang hendak menikahi kita masih perjaka atau tidak?
....
Terlepas dari perbedaan ataupun persamaannya tetap saja ada label, steriotipe yang kita berikan kepada mereka. Perempuan memang tidak terlepas dari hal itu, apapun statusnya. Dia akan tetap terlihat salah ditengah masyarakat kita.
Terakhir, saya pernah ditanya oleh seorang guru semasa saya SMA dulu. Saya disuruh memilih, ingin dipoligami atau bercerai? Ini lain konteksnya tapi hampir sama kok.
Saya menjawab ,saya lebih memilih bercerai dan hidup menjadi seorang janda dibanding harus menderita dalam pernikahan.
Dan bagi saya, untuk sekarang ini perempuan yang memuaskan bercerai adalah perempuan kuat, dan sadar akan penderitaan yang ia alami.
Bagi perempuan yang have sex sebelum menikah, saya rasa ada pertimbangan sebelum mereka melakukannya.
Orang yang berhubungan seksual diluar pernikahan belum tentu aras kemauannya.
Dan lagi, permasalah seksual orang tak perlu kita urusi, urusi selangkangan mu sendiri.
....
Yang saya harapkan, tidak ada stigma negatif, diskriminasi atau apapun itu yang menyudutkan perempuan. Baik mereka yang perawan, tidak perawan, menikah dan janda. Bagiku selama mereka memutuskan sesuatu atas dasar kesadaran mereka sendiri,tanpa merendahkan sesama atau jenis kelamin lain bagiku itu lebih dari cukup.
Mungkin itu sedikit tulisanku. Amat membosankan dan suka muter.
Saya cuma manusia biasa.
Saya ingin bicara, ingin berpendapat pula. Makanya saya nulis.
Catatan: foto by pinterest.com


Komentar
Posting Komentar