sexedu: hymen, vagina, dan tes keperawanan
Jadi, selepas menonton video unggahan akun instagram bbcindonesia yang berjudul "dipaksa menjalani tes keperawanan." Aku pikir untuk menulis ini, aku juga ada mood untuk menulisnya. Rencana mau nulis di story instagram aja, tapi gak jadi dengan beberapa alasan, Instagram story hanya bertahan 24 jam, ditambahkan di sorotan belum tentu ada yang baca.
Karena saya punya blog, yah tulis di sini aja.
Jadi pada tulisan kali ini, ada 3 topik yang ingin aku bahas. Ketiganya saling berkaitan satu dengan yang lain. Apa itu? Hymen, Vagina, dan tes keperawanan.
Sebelum masuk ke pembahasan, aku mau bicarain sedikit pasal keperawanan.
Aku mengambil definisi dari KBBI, karena cukup sesuai dengan pemahaman masyarakat kita.
Keperawanan adalah perihal perawan; Kesucian(kemurnian) seorang gadis; kegadisan.
Kesucian atau kegadisan yang dimaksud disini adalah ketika kita(perempuan) belum melakukan hubungan seksual pertama kali.
Beda halnya dengan mereka yang BS setelah menikah. Perempuan seperti itu dianggap baik, karena mempersembahkan keperawanannya pada sang suami.
Kalau boleh berpendapat,aku gak setuju dengan istilah perawan ini. Kenapa? 1.Mengontrol tubuh perempuan, 2. Menjadikan sesama perempuan saling merendahkan.
Penjelasannya nanti, diakhir.
Hehehe..
Aku ingin membahas hymen dan vagina terlebih dahulu.
Jadi apa sih itu hymen? Yang selalu jadi tolak ukur keperawanan?
Menurut healthyline "The hymen is a thin membrane that surrounds the opening to the vagina. Though hymens can range in hape and size, most are shaped like a half-moon."
Jadi hymen adalah selaput tipis yang memiliki berbagai bentuk,ketebalan dan ukuran yang bervariasi. Saya kasih gambarnya di bawah ini.
Perlu kalian tau gak semua perempuan punya Hymen, peristiwa perempuan tanpa hymen ini disebut hymen absent.
Sedangkan hymen yang menutupi seluruh pembukaan vagina adalah hymen imperforate.
Maka dari itu kepemilikan hymen tidak bisa dijadikan sebagai acuan seorang perawan atau tidak.
Hymen sendiri merupakan selaput tipis yang melapisi vagina. saat proses pembentukan kelamin dalam janin, hymen berangsur-angsur melebur, berkurang dan bahkan hilang/tidak tersisa (hymen absent). Namun kembali diingatkan, ketebalan hymen setiap perempuan berbeda.
Hymen ini bukan jaringan yah, tidak memiliki sistem saraf didalamnya. Jadi hymen itu tidak memiliki darah. Ia lebih seperti sel kulit mati. Yang apabila hilang atau robek tidak akan menimbulkan efek samping dari si pemilik tubuh.
"Tapi Mel, bagaimana dengan perempuan yang berdarah di malam pertama? Bukan kah artinya hymennya robek?"
Hihihi... Pemahaman seperti ini sering aku temui.
Perempuan yang berdarah saat berhubungan seksual baik yang pertama atau kesekian kalinya, yang berdarah bukan akibat hymen robek tapi vagina yang terluka.Inget yah, bukan senjata tajam aja yang bisa melukai tapi penis juga.
Sudah jadi pengetahuan umum bahwa otot vagina lentur. Tapi yang dipahami sebagian orang dalam arti lentur adalah ketika penetrasi(masuk penis ke vagina) otot vagina akan lentur, jadi penis mudah masuk. Sayangnya Anda kurang tepat.
Otot vagina bisa berkontrasi, ia bisa saja lentur seperti yang aku jelaskan tapi dia juga bisa menutup.Ada yang sesuai dengan kejadian tersebut, yaps veginismus.
Veginismus berbeda dengan hymen imperforate. Veginismus masih ada cela kecil tempat keluarnya darah menstruasi, hanya saja saat penetrasi sulit, menimbulkan rasa nyeri yang luar biasa. Memasukkan tampon(pembalut)saja menyusahkan.
Sedangkan hymen imperforete, darah menstruasi tidak mampu keluar(tidak ada cela) sama sekali. Butuh operasi kecil untuk menanganinya.
Mengenai penyebab veginismus sendiri, dari literatur yang aku baca baik artikel ataupun jurnal, veginismus disebabkan oleh peristiwa traumatik saat berhubungan seksual, bisa pula karena masalah emosional. Tidak ada penyebab tunggal akan kejadian ini.
Kalau kalian ingin tau lebih jelas tetang veginismus, bisa baca jurnal penelitian luar negeri. Bisa juga nonton serial netflix sex education. Recomended.
Because masalah veginismus masih dalam proses pengamatan ku. Belum banyak literatur yang membahas ini.aku baru tau ada veginismus setelah ikut kelas sex education yang diadakan komunitas Perempuan Medusa(bisa cek instagramnya). Dan beberapa waktu lalu ada seorang teman perempuan, sebut aja H membuatku pusing akan hal ini.
H adalah seorang responden perempuan satu satunya yang ku ajak berdiskusi masalah seks. Selebihnya laki-laki.Dia menceritakan hubungan seksual pertamanya padaku. Dia mengalami, haruskan aku mengatakan veginismus?
H mengalami kesulitan saat penetrasi, dia merasakan kesakitan yang entah bagaimana cara menjelaskannya. Rasa sakit itu bertahan berhari-hari.
"Aku tidak siap melakukannya." Jelasnya.
Dengan gamblang ku simpulkan itu veginismus karena dia mengalami masalah emosional. But, di penetrasi keduanya berhasil, tentu masih dengan rasa sakit yang sama.
Harus aku akui, perkataan tokoh Firdaus dalam buku Perempuan di Titik Nol benar adanya. Ada rasa sakit sekaligus kenikmatan saat berhubungan seksual.
Buat kalian yang berpikir bahwa berhubungan seks itu nikmat. Sorry, HS bisa berakibat pada fisik dan mental health seseorang .Hal ini bukan hanya perempuan yah, laki-laki juga. Sekali lagi aku rekomendasi kan serial netflix Sex Education dan buku Rumah Tepi Danau untuk dibaca.
Kembali ke H.Dia tidak berdarah saat berhubungan seksual pertama kali, saat berhubungan seksual ketiga kali barulah dia bedarah. Itupun tanpa adanya penetrasi (seperti saat berhubungan seks pertama kali).Aneh bukan? Berhubungan seksual pertama kali tidak penetrasi+tidak berdarah. Kedua kali, berhasil tapi tidak berdarah. Ketiga kalinya berdarah tanpa penetrasi. Yah, aku sulit menyatakan ia mengalami veginismus.
Yang pasti ia trauma akan hal itu.
Aku tau ini satu orang doang. Tapi dari sini bisa aku simpulkan, perempuan yang melakukan hubungan seksual pertama kali dan tidak berdarah bukan berarti mereka tidak perawan.
Jadi pliss men, jangan ceraikan atau talak istri anda cuma gegara gak berdarah dimalam pertama. Anda konyol sekali. Dan ketika si perempuan berdarah, bisa aku katakan Anda melakukan tindak kekerasan.
____
Lalu untuk mengetahui perawan atau tidaknya dari mana?
Ok, aku pernah melontarkan pertanyaan seperti ini. "Apa perawan atau tidaknya perempuan penting?"
"Kalau gue sih enggak Mel. Selama dia bersedia ngewe sama gua yah ok. Perawan enggaknya bodo amat." Itu jawaban dari si cowo barbar, ku rasa mewakili sebagian lelaki lainnya
.
Berlainan dengan lelaki Agamais yang aku tanya.
"Yang mengandung perempuan Mel, harusnya rahimnya terjaga(tidak pernah berhubungan seksual)."Sering pula hal itu dikaitkan dengan penyakit menular seksual. Seolah segala penyakit seksual datangnya dari rahim perempuan.
Ambil contoh penyakit HIV/AIDS.
Penyebab utama HIV/AIDS adalah bergonta-ganti pasangan seks, berlaku bagi perempuan dan laki-laki. Baik yang heteroseksual atau homoseksualitas.
Dosen kespro semester satu ku pernah berbagi cerita nih tentang sepasang suami-istri yang mengidap penyakit HIV/AIDS.
Jadi si suami jajan tiap dinas keluar kota.
Jajan disini maksudnya berhubungan seksual yah. Harusnya aku tidak mengunakan kata jajan, terkesan perempuan adalah barang yang dibeli dan dipakai. Ok, kita ganti jadi gonta-ganti pasangan seks aja.
Ya ampun, aku ngomong apa yah.
Si suami ini tak tau dirinya terkena HIV/AIDS. Kemudian berhubungan seks dengan istri. Istri ikut tertular.Ketika si suami ini meninggal dan penyebabnya diketahui, tau gak yang disalahin siapa? Istri nya.
Aku tidak mengerti, bagaimana bisa seorang istri yang tinggal dirumah, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mengurus anak, dan bahkan tidak punya cukup waktu mengurus dirinya sendiri kok disalahkan?
Iya, emang dimana-mana perempuan selalu disalahkan. Dari masalah pelecehan, pemerkosaan, pencabulan, pembunuh, sampai masalah kesehatan.
Kembali ke pendapat cowo agamais. Aku setuju dengan penahanan dia, bahwa perempuan sepatutnya menjaga kesehatan organ reproduksinya( begitupun dengan laki-laki), Tapi aku gak setuju jika tes keperawanan dijadikan alat untuk mendeteksi kesehatan reproduksi.
Kalau masalah dalam konteks kesehatan kan bisa tuh ke dokter, periksa masalah reproduksi nya. Bukan cuma perempuan, laki-laki juga. Ingat, Demi keamanan bersama yah.
Sama halnya menjadikan tes keperawanan sebagai pendeteksi kesucian seorang perempuan.
Yang tau loh suci, punya dosa atau enggak kan Tuhan. Lagi, sudah atau tidaknya seorang perempuan berhubungan seksual bukan berarti mereka pendosa besar dan tak patut untuk di ampuni.
Dalam agama Islam, berzina merupakan dosa besar. Tapi ada tuh kisah tentang pelacur yang masuk surga.Bagiku Tuhan itu adil, dia pasti tau kenapa hamba-Nya melakukan perbuatan tersebut, Tuhan gak buta. Dia Maha melihat, Dia juga baik.
Ketika tes keperawanan ini ada, secara otomatis akan ada perempuan yang dihakimi yaitu mereka yang tidak perawan.Dan hakim paling kejam datang dari sesama perempuan sendiri.
"Yah salah sendiri gak bisa jaga diri. Kalau tau pekerjaan X harus perawan ya ngapain berzina."
Tidak jarang ada penerimaan karyawan dengan persyaratan mutlak harus perawan. Di beberapa institusi seperti pendidikan juga menerapkan hal yang sama. Seakan, kepintaran, keahlian, dan prestasi kalah dengan keperawanan.
Sayangnya praktek tes keperawanan ini terjadi di lebih dari 20 negara.
Kalau kalian ada kesempatan bisa cek instagram @bbcindonesia yang membahas pemaksaan melakukan tes keperawanan. Dari video unggahan tersebut, bisa diliat betapa kesehatan mental seseorang terganggu akibat dari praktek tes keperawanan.
Walau hasil tes terbukti perawan, namun katanya tubuh si perempuan tidak memperlihatkan hal tersebut. Dan begitu seterusnya sampai si perempuan ini mengalami ketakutan.
____'
Terakhir, aku ingin berbagi cerita pengalaman ketakutan ku terhadap tes keperawanan.
Aku sekolah di SMA yang terbilang populer, sekolah Islam. Sewaktu awal pendaftaran, ada ketakutan tersendiri yang menyelimuti ku.
Ketakutan akan tidak diterima.
Bukan karena tes mengajinya, bukan karena tes sholatnya, dan bukan karena tes tertulisnya tapi tes keperawanan nya.
Aku tidak pernah berhubungan seksual sebelumnya. Tapi apa yang membuatku takut, toh aku masih perawan?
Pemahamanku akan tes keperawanan. Seolah tes tersebut akan membongkar deretan dosa yang ku perbuat selama ini, seperti: tidak puasa, makan dikelas, menyontek, tidak sholat dan dosa lainnya.
Dan entah bagaimana perasaan mereka yang sudah berhubungan seksual entah karena kemauan sendiri atau akibat pemerkosaan. Mereka harus mendapatkan pembatasan,pengusiran, penghinaan hanya karena mereka tidak lagi perawan.
Aneh, urusan seksual yang sebenarnya urusan privat jadi urusan semua orang.


Komentar
Posting Komentar