[beropini] Kenapa gua nolak pernikahan?


"Pernikahan bukan perlombaan, jadi gak usah buru-buru. Lo gak bakalan mati kok kalau gak nikah."


“Kenapa kamu gak mau nikah?” Pertanya ini dateng dari teman gua, si Andi. Cowo yang hobi diskusi sama gua masalah perempuan. Terutama masalah domestik.
Andi bukan laki-laki pertama yang menanyakan itu. Maaf yah Andi, gua punya cowo lain. Tapi pangkalnya sama.

Gua sama Andi, sering banget tuh bahas masalah perempuan dan domestik, sampai-sampai dia kasih gua julukan “manusia dapur” gua nggak ngerti kenapa julukannya harus manusia dapur, barang kali dia ingin menyampaikan bahwa semua perempuan itu tempatnya di dapur. Kodratnya emang di dapur. Sebagai perempuan  gua tidak terima dengan itu, gua udah kasih berbagai penjelasan tapi yah Si Andi emang kepala batu. Gak punya kuping. Patriarki.

Heheh becanda, gua tau kok loh ngetes gua. Gua paham apa enggak dengan permasalahan perempuan. Cuman kamunya kelewatan. 

Setiap kali kita bahas masalah perempuan, isu pernikahan diangkat pula.
Gua pikir Andi ngerti banget tuh masalah perempuan ya udah, gua lempar pertanyaan yang selama ini nyangkut di kepala Bertahun-tahun lamanya. “kenapa kita harus menikah?”  bukan hanya Andi yang shok, laki-laki lain yang pernah gua tanya juga gitu. 

Menatap gua dengan aneh, penuh belas kasih. “bisa-bisanya ada cewe yang gak mau nikah.”

Gak banyak tuh dari mereka kasih gua alasan kenapa perempuan harus nikah. 
Itu karena mereka berpikir gua nolak pernikahan. Padahal gua Cuma nanya “kenapa kita harus nikah?” 

Alasan yang mereka kasih bervariasi, dari mulai “Perempuan harus nikah, udah kodratnya.”
“peradaban tidak akan ada tanpa perempuan, dan untuk itu mereka harus menikah supaya bisa melahirkan generasi selanjutnya.”
Ada juga yang pakai doktrin agama ke gua. “menikah itu, kewajiban.”
“Menikah itu penyempurna ibadah.” Yang justru bikin gua makin bingung, gunanya nikah itu apa? Dan kenapa kalian memaksa saya untuk menikah? 
.......

Pernikahan, bukan kata asing di telinga gua. Dari kecil kata itu udah akrab ditelinga, tapi tidak pernah bisa gua mengerti dia itu apa sih? Sampai gua berusia 20 tahun, pernikahan makin sering muncul di hadapan gua. Puncaknya pas bulan oktober lalu, tetangga gua kiri dan kanan nikah. Hari pernikahannya beda 1 hari doang. 

Gua gak masalah sih dengan mereka.  Pertanyaan dari manusia yang datang ke sana yang bikin gua geram. 
“Kapan nikah?”
“sisa kamu doang loh yang belum nikah”
“udah besar tapi belum nikah.” dan Bla bla bla lainnya..

Waktu kecil, pernikahan seperti hal yang di Glamorisasi kan...? Mungkin begitulah kalimatnya. Seolah pernikahan itu perayaan paling penting, lo gak bakalan bahagia kalau gak nikah...shit lah.
Seolah kebahagiaan seutuhnya hanya pernikahan. Setelah lo nikah pasti hidup loh bahagia. Iya, di kartun, sinetron bahkan di kehidupan bermasyarakat kita punya pemahaman itu.

Padahal pernikahan gak serta-merta ngasih lo kebahagiaan. Sama sekali tidak.

Lebih parah kalau lo terlahir sebagai perempuan. Pernikahan jadi hal wajib dan utama dalam hidup.
Untuk itu gua nulis opini ini, supaya kasih kalian pemahaman dari sudut pandang gua mengenai pernikahan. Sekalian ngejelasin kenapa gua sampai nanya gunanya nikah itu apa? Yang sering dipelintir menjadi Amel nolak pernikahan.

......
Jadi, menurut lo Mel nikah itu apa? Karena lo gak setuju dengan apa yang mereka bicarakan?

Gua sebenarnya gak tau, definisi atau arti menikah itu sendiri. Bagi gua, menikah berarti lo siap hidup sama orang lain, lo butuh orang itu dalam hidup lo, sebagai partner, teman, yang punya satu visi dan misi sama lo, supaya tujuan kalian berdua tercapai. Begitu. Dan paling penting, lo gak kehilangan diri lo sendiri ketika bersama dia.
Ini gua kayak definisi in organisasi yah...
Ada visi misinya... Heheh.

........
Semasa SMA dulu, gua pernah tu di tanya sama temen gua. Waktu itu kami di kelas, kami bahas poligami. 
“Mel, lo mau nikah umur berapa?” gua yang kerjanya nggak mikirin umur, mana sempat kepikiran masalah itu. Yang ada di pikiran gua adalah gua pengen nikah usia 30 atau 40 tahun, jadi gua jawab.

“Mungkin sekitar usia 27 tahun lah.” Jawab gua ragu. 
“Gile tua banget.” 

Gua jawab 27 tahun udah dianggap tua, entah apa respon mereka jika jawaban gua 30 tahun? 
Bagi gua usia segitu (27 sampai 40 tahun) masih bisa nikah.  
Gua gak tau apa kah gua berumur panjang? Apa gua masih sempet nikah sebelum mati?
Umur dan jodohkan Tuhan yang nentuin? Jadi gua gak usah buru-buru nikah kan walau usia gua udah mateng? Melakukan apa yang gua bisa sekarang kan lebih baik. Hihihi...

Sayangnya, dimasyarakat kita ada mitos perawan tua.  Perempuan berusia 20 tahun ke atas atau sudah selesai sekolah atau kuliah harusnya menikah. Walau sekarang udah bergeser, banyak orang tua yang menikahkan anak perempuannya setelah mereka punya pekerjaan. Tapi masih banyak tuh yang memilih menikah di usia dini. 
Walaupun di usia segitu gua nikah(40tahun), kemungkinan punya anak itu kecil. 
Tapi emang harus punya anak yah? Nanti gua bahas di opini lain.

Di masa pandemi kayak sekarang, makin ramai aja orang nikah. 
Keluarga gua mengusulkan hal yang sama, menikah. Tapi gua tolak. Pemikiran mereka seperti ini, “sekarang kan sekolahnya di rumah, jadi gak apa lah menikah.” 

Semenjak ibu melahirkan,  pekerjaan domestik beralih ke gua. Di waktu yang bersamaan kuliah gua harus tetap jalan, tugas kampus harus dikerjakan, masalah belanja ke pasar, memasak, beli popok dan susu bayi jadi tanggung jawab gua sepenuhnya. 
Di saat sibuk seperti itu, gua disuruh nikah? Anda gila.

 “Seenggaknya mengurangi beban orang tua lo Mel, dengan cara menikah.” Menikah untuk mengurangi beban adalah jalan terkonyol yang pernah ada. 
Kenapa gua bilang begitu? Pertama, orang tua gua punya tanggung jawab membesarkan gua sampai apa yang gua inginkan tercapai, bukan berarti gua tergantung sama orang tua gua. Gua sadar gua miskin, makanya gua jarang banget minta dibeliin barang. Persoalan buku untuk kuliah aja, gua harus ke perpustakaan setiap hari untuk baca buku. 
 Kedua, gua punya tanggung jawab atas keluarga gua. Kalau kalian sering diskusi sama gua, pasti tau banget gua menentang penempatan perempuan di wilayah dapur, sumur, kasur. Mesti kalian tau kalau di rumah gua melakukan pekerjaan itu. Iya, benar apa kata Andi, perempuan gak bisa lepas dari sana. Karena itu udah mendarah daging dimasyarakat. Tapi bukan berarti gua mengiyakan perkataan si Andi. 
Gua punya tanggung jawab sebagai anak, gua tau beban orang tua gua, terutama ibu. Gua terjun ke pekerjaan domestik karena ibu gua bisa stress gegara pekerjaan domestik tidak pernah selesai. Dari sana gua belajar ternyata begini yah pekerjaan rumah tangga, di satu sisi di anggap sepele, pekerjaan untuk para pemalas, di sisi yang lain pekerjaan rumah tangga dianggap penting. Jadi serba salah. 

Walau seharusnya anggota keluarga punya tanggung jawab yang sama dalam pekerjaan domestik dan finansial. Sayangnya kesadaran itu gak ada di masyarakat kita. 

Di keluarga gua sendiri, neneknya ibu gua(?) perempuan pekerja keras. Sampai usia tua dia masih bisa kerja. Ibu, nenek dan perempuan dilingkungan tempat tinggalku begitu, turun ke sawah bersama bapak-bapak saat panen tiba. Dulu. Sebelum program green revolution muncul. Dan menyingkirkan perempuan pekerja.
Mungkin itu juga yang membawa pikiranku kearah penolakan pernikahan. 

Gua menganggap laki-laki sebagai suami perannya hanya mencari nafkah, sedangkan realitas di depan mata gua perempuan juga bisa bekerja. Jadi apa gunanya lelaki? Toh perempuan bisa bekerja, bisa mengurus rumah tangga, bisa melahirkan dan mengasuh anaknya. Jadi gak usah nikah lah yah. 

“lo gak bisa punya anak kalau gak nikah, mel.”
Iya bener banget. Semasa gua kecil, gua suka banget tuh sama Bunda maryam. Buku yang selalu gua baca itu tentang dia, kartun yang gua nonton pun tentang kisah Maryam dan nabi Isa. Makanya gua berani mempertanyakan pernikahan, bahkan nolaknya, kan perempuan bisa punya anak tanpa menikah dan berhubungan seksual.
Hihihi...

Gua gak bermaksud menggurui yah, kan kalian punya opini masing-masingmasing-masing tentang pernikahan.

Tapi itu gak mungkin sih, apa lagi di jaman sekarang. Bisa jadi bahan hinaan gua, kalau punya anak tanpa kawin dulu.
Makanya sekarang, gua mulai mikir apa gua harus punya anak? 

Eh, tunggu. Banyak tuh buku yang membahas masalah perempuan yang gak nikah tapi masih mengurus anaknya sendiri. Strong woman.
Jdi gua maaih bisa punya anak dong tanpa harus nikah..? Hihihi

......
Ok, kembali ke permasalahan gua yang milih tinggal dirumah.

Gua mungkin keliatan gak berdaya, terkurung dirumah dengan segudang aktivitas rumah tangga. Tapi dari sana pula gua bisa cari akar masalahnya. Ketimbang gua keluar, diskusi sana sini tapi ngebiarin ibu gua menderita. Dan ketika gua ngebiarin ibu gua menderita sendiri, itu sama aja gua jadi penindas untuknya.
Oh iya, gua gak menyalahkan mereka yang pergi diskusi atau demonstrasi, karena itu adalah cara mereka.

untuk pembahasan domestik gua bakalan bahas di review film Kim Ji-yeong lahir 1982.

Bahas masalah finansial. Saat usia 10 tahun, tante gua nikah. Pas acaranya selesai sekeluarga pada rapat mengenai masalah biaya pernikahan. Yang jujur bikin gua shok, bayar orang nyanyi dinikahan, bisa untuk beli laptop merek terbaru. Gimana kalau uang sewa tenda, busana pengantin, makanan dan minuman di kumpul jadi satu, dari mulai H-7 pernikahan...?? Wah... Bisa beli rumah baru gua.
Makin kesini, pesta pernikahan makin di mewah-mewah kan. Pengaruh paling besar adalah televisi yang suka nyiarin pernikahan artis. Lo tau kan, nikahan mereka sampai berjuta-juta bahkan makan biaya milyaran. 
Gua gak masalah sih dengan itu, toh itu uang mereka. Dan itu pun berlaku sama gua. Yang nikah kan gua, uang yang dipake juga punya gua.  Jadi pliss jangan paksain orang nikah. Bebannya gede banget.

Di usia gua 20 tahun ini, gua belum berpenghasilan, uang jajan masih dikasih orang tua. 
Gua pernah tu pengen kerja, tapi dilarang. Alasannya jauh, kamu gak bisa, pekerjaan rumah aja gak beres. Aduh, kenapa pula itu dihubungkan? 
Maka dari itu gua masih milih kuliah dulu, belajar dulu, dan berpenghasilan terlebih dahulu, supaya kalau nikah nanti beban ekonomi berkurang. Baru deh gua, kalau ada lelaki yang bisa jadi partner hidup, mungkin gua bakalan nikah. 
Yang pasti partner hidup harus satu frekuensi, open minded, dan punya ikatan secara emosional dengan gua.

Kalau ditanya, pernah gak kepikiran pengen nikah? Nikah sama siapa? Yah, pernah lah. Waktu gua kecil. Gua nonton kartun disney, kartun berbie, gua akhirnya bermimpi menikah dengan pangeran... Astagaaa sumpah gua malu banget bilang ini.
Pas SMP, gua kenal Kpop, yaps gua pengen nikah dengan salah satu dari mereka. Bahkan gua gak masalah cerai dan nikah dengan idol lain. 
Iya, segila itu emang. 

Itu waktu gua belum tau Colorism, standar masyarakat, diskriminasi, dan lainnya. Dimana lelaki tampan adalah segalanya, berkulit putih adalah yang terbaik.
Padahal mau setampan apapun, seputih apapun, kalau dasarnya bejat yah bejat.


Mungkin itu aja sih opini dari gua.
Gua harap kalian paham.
Heheh...
See U di beropini berikutnya..


Komentar

  1. Jadi kesimpulany mba amel ini ternyata bukan tidak ingin menikah 😅,tapi ingin menyelesaikan maslah internal keluarga dulu sembari menamba wawasan dan sempat dapat jodo yg satu visi dan misi agar bisa memantangkan langkah membentuk organisasi informal (Keluarga), dan tetap akan menjadi manusia dapur😁, bercanda mba Amel jangan marah✌

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer