menimbah Sebelum memutuskan dalam buku Kumpulan cerpen Waktu Untuk Tidak Menikah

Hai semua! Akhirnya saya bisa review buku untuk kedua kalinya.
Setelah melawan kemalasan dan hobi menunda-nunda, akhirnya saya menulis kembali. Tepuk tangan.
Jadi hari ini aku mau review buku 'Waktu untuk tidak menikah' . Sama halnya dengan buku Muslimah Yang Diperdebatkan--yang sebelumnya aku review, buku ini di terbitkan oleh penerbit Mojok. Jumlah halamannya sekitar 179 halaman, lumayan bisa di baca sekali duduk lah.

Saya mau cerita dikit nih tentang buku ini.
Jadi buku ini bukan punya saya, heheh.
Beberapa minggu lalu sebelum ibu saya melahirkan saya ikut acara kencan buku yang diadakan Rstorebook_ajatappareng. Kencan Virtual dengan persyaratan menukarkan satu buku kumpulan cerpen kemudian tulis review bukunya. Jujur aja sebetulnya saya males banget nulis review. Tapi biar deh supaya nambah bacaan gratis.

Nah, saya punya satu buku dari Mojok juga 'Perempuan Yang Memesan Takdir' kebetulan banget buku ini aku pinjemin ketemen setelah selesai ku baca. 
Gak enak juga rasanya maksa temen baca buku cepet-cepet, bukunya sih gak terlalu tebel tapi kalo daftar bacaannya numpuk, yah mana sempet. 

Setelah kuadukan keluhanku ke kakak penyelengaran yang merupakan salah satu pengelolah toko buku itu sendiri, kak Kiki namanya. Rumahnya gak terlalu jauh jadi mudah dijangkau.
Kesan pertama ketemu kak Kiki agak samar-samar sih, yang nempel di ingatan hanya momen ketika kak Kiki bilang--aku anak SMA. Hahah, aku masih muda emang.
Pertemuan kedua wajahnya sudah mampu ku gambarkan di kepala. Pertemuan ketiga dan empat sudah jelas sekali.

Saya gak bisa mengenali wajah seseorang ketika gak ada pembeda dengan wajah manusia lain yang pernah saya temui. Yang saya maksud disini, ciri khas wajahnya. Atau persamaan wajah, bentuk tubuh atau suara yang barang kali mirip tapi beda sedikit, itu bisa jadi bahan untuk mengenal, membedakan dan mengigat wajah orang tersebut. Agak rumit yah penjelasannya.

Hari itu saya sematkan ke rumahnya, setelah beberapa jam menunggu hujan reda. Saya janji datang jam 10 pagi, sayangnya matahari.mengalah terus sama hujan. Baru sekitar jam 12 siang hujannya mulai reda.
Saya pamit sama ibu, dia nitip bakso dan gado-gado buat makan siang. Hari itu ibu saya masih hamil. Kebetulan jalan kerumah kak Kiki lewat pasar jadi sekalian mampir beli deh kalo pulang.

Saya disuguhkan banyak buku. Ada dua buku yang sama-sama terbitan mojok. Buku Isyarat Cinta Yang Keras Kepala dan buku Waktu Untuk Tidak Menikah.

Jujur saya tidak bisa memilih salah satunya.
Saya bernegosiasi dengan kak Kiki agak lama, akhirnya dia mengalah dan membiarkan saya membawa pulang kedua buku tersebut. Yess..
Setelah keduanya selesai dibaca.
Hanya buku waktu untuk tidak menikah lah memberi kesan. 

Waktu Untuk Tidak Menikah, bagi saya buku ini cocok dengan situasi sekarang. Banyak orang yang berbondong-bodong menikah entah karena sudah direncanakan sejak lama atau kebelet karena covid-19? 

Di Indonesia sendiri fenomena menikah muda atau menikah cepet-cepet sudah di berlangsung dulu sekali. Di keluarga saya juga seperti itu, ibu saya menikah di usia yang masih mudah, usia 14 tahun --lulus SMP aja ibu belum. Nenek, tante serta saudara lain pun begitu.
Dalam dunia kesehatan sendiri usia ideal untuk menikah adalah 21 tahun untuk perempun dan 25 tahun untuk lak-laki. 

Wabah covid19 saat ini, menjadi kesempatan bagi sebagian orang untuk menikah, ketakutan tertular, takut jodohnya mati kena virus, kuliah online seolah tak berasa kuliah lagi. 
Entah, apapun alasanya yang pasti sang mantan kekasih sudah lari bersama perempuan lain dan kekasih sekarang ini jauh disana menjadikan saya ikut goyah dan ingin naik banding ke pelaminan pula. Buku ini setidaknya menyadarkan saya kembali dengan karakter Nursri, seorang buruh yang terpaksa pulang kekampung halaman untuk menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya. Sebetulnya ia belum berniat untuk menikah namun desakan orang tua dan usianya yang tidak lagi muda memaksanya untuk tetap menikah.

Pernikahan yang tinggal menghitung jam itu Nursri tinggalkan setelah menelpon sang mantan kekasih, kawan-kawannya yang bekerja sebagai buruh di pabrik terancam dipecat, sebagai solidaritas perkawanan dan untuk membela hak-haknya sebagai buruh Nursri tinggalkan perkawinannya.

Selain cerpen Waktu Untuk Tidak Menikah, cerpen berjudul Abha pun menarik perhatian saya. Rasa-rasa saya ingin melayangnkan pertanyaan pada sang penulis "Anda tidak sedang memata-matai saya kan?" 
Karakter Abha mengingatkan saya pada seorang kawan yang juga tengah menempuh pendidikan kedokteran. 

Dalam cerpen ini kisah semasa sekolah Abha pun di bahas, lagi-lagi persis. Nama saya dan kawan saya itu berurutan di absen sebagaimana Abha dan kawannya. Abha dengan segudang prestasi,  murid teladan, baik hati, dan banyak teman, kebalikan dari itu semua adalah saya yang hanya tau kantin, tidur dan pulang. 

Saat nama kawan saya disebut semua orang senang namun murung ketika nama saya disebut. Siapa yang kenal dengan saya? Seorang anak dengan nilai rata-rata rendah(dapat nilai 2 dipelajaran bahasa ingris sudah senang saya tuh), doyan terlambat, malas kerja tugas. Aduh kebalikan dari kawan saya memang.
Abha layaknya duplikat dari kawan saya yang juga awalan namanya A. 

Buku kumcer ini berisi 14 cerpen dengan cerita menarik, akhir yang tak terduga namun tak membosankan untuk di baca. Kumcer ini barang kali membuka dan merefresh kembali kepala yang sumpek oleh desak sana sini. Membantu menimbah-nimbah dalam mengambil keputusan. 
Buku kumpulan cerpen ini saya rekomendasikan untuk kalian, kalian yang barang kali menikah dekat-dekat ini(sebaiknya pikir-pikir dulu deh udah siap nikah atau enggak?) atau untuk kalian yang baru menjadi ibu, baru di tinggal kawan atau kekasih barang kali. Tenang cerpen ini gak muluk soal percintaan, kalian gak bakalan bosen dibuatnya.

Permasalahan pernikahan lain kali saya akan bahas di Red Diary. Tunggu aja yah.
See U di review buku berikutnya.

Komentar

Postingan Populer