[Cerpen] Kembali Untuk Pulang
Sore ini
kamu pulang lebih awal dibanding teman-teman satu kerjamu. Sekarang jam enam
kurang lima belas menit, pabrik tempatmu bekerja belum ditutup. Pabrik yang lebih mirip gudang tak terurus itu,
dengan cat kumal yang mulai memudar dan sekitaran
pekarangan yang kotor. Tak memenuhi standar kebersihan, Pikirmu.
Sekarang
jam istirahat atau lebih tepatnya pergantian jam kerja pagi ke malam. Kau tidak
mengambil shift malam atau diberi jam kerja tambahan oleh atasanmu hari
ini, begitupun dengan hari-hari berikutnya.
Siang
tadi, di jam makan siang kau memberanikan diri menghadap lelaki tua berwajah
bulat tembam itu. Lelaki berbadan tinggi
besar dengan hiasan brewok tipis
memenuhi pipinya. sepertinya baru ia cukur pagi ini, terkamu.
Lelaki tinggi
besar itu menatapmu dengan mata coklat berbinarnya. Dari atas ke bawah, dari
ujung kepala sampai kaki. Kemudian kembali lagi, ia berhenti beberap detik di
perut buncitmu, satu, dua, tiga detik ia beraih ke wajahmu, dirimu.Dekil,
kecil, dan pucat itu.
Seolah-olah
kau ini manekin bisa dilihat kapan saja.
Kaki panjangnya yang sejak tadi ia naikkan di
atas meja perlahan diturunkan.
Kau
menerka-nerka berapa agaknya usia lelaki di hadapanmu ini, mungkin lebih muda
sepuluh tahun dari bapakmu atau seumuran? Ia jauh lebih muda dari terlihat, mungkin karena kulit putih bersih khas kaukasianya itu. Membuatnya
terlihat lebih muda.
Sebetulnya
tanpa menghadap padanya kau sudah tau jawaban yang kan kau terima. Meminta cuti
hamil lebih cepat? Cari mati.
Bukannya
menagapimu, ia malah semakin mengepulkan asap rokonya ke udara. Seisi ruangan
penuh kabut asap, membuatmu sesak nafas. cepat-cepat kau tutup hidungmu dengan
tangan kecilmu.
Di usia kehamilan empat bulan bayimu masih rentan terpapar bahaya dari luar. Kau harus pandai-pandai menjaga diri.
Di usia kehamilan empat bulan bayimu masih rentan terpapar bahaya dari luar. Kau harus pandai-pandai menjaga diri.
Lelaki paruh baya itu mengangguk,
mengiyakan permintaanmu. Tapi bukan diktator namanya jikalau dia tak memotong
gajimu dan cuti hamilmu kedepannya di hilangkan. Dia memang penjajah.
Malang
nasibmu.
Dan kau memilih tuk mengundurkan diri.
Dan kau memilih tuk mengundurkan diri.
Kau sudah berdiri di depan halte sekarang,
menunggu angkutan umum membawamu pulang bertemu dengan anak-anakmu. Sembari
membawa perut buntingmu dan sebuah kantong plastik berisi makanan yang baru kau
beli di wartek langananmu. Harganya lima ribu rupiah untuk sebungkus nasi. Kau
beli lima bungkus, untukmu dan ke empat anakmu.
Hari ini
kendaraan begitu ramai atau memang seperti itu adanya? Penuh, padat, macet. Kau
tidak tau, kau terbiasa pulang malam. Tidak sendiri tentunya, kau selalu
ditemani suamimu. Lelaki pedesaan yang meminangmu dua belas tahun lalu itu. Saat
itu kau masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, kelas delapan. Sedang
ia berusia dua puluh lima tahun.
Kala itu kau belum mengerti betul apa itu
pernikahan dan untuk apa menikah. Kau iyakan saya permintaan bapakmu. Dengan
mahar seadanya, cukup untuk membayar sewa pakaian pengantin dan makanmu untuk
beberapa bulan kedepan. Cukup, itu saja. Tak lebih.
kau
sudah didalam angkutan umum. Duduk di bangku paling belakang, memiringkan
badanmu sedikit kedepan. Kau buka kaca jendela angkutan umum itu, menghadap
gedung pencakar langit.
Gedung yang
begitu diangung-agungkan setiap mata yang memandang. Namun lain halnya denganmu.
Sewaktu kecil,
saat usiamu sepuluh tahun kamu rajin berjalan kaki, menelusuri hamparan sawah
bersama teman sejawatmu sepulang sekolah. Sembari meneteng sepatu melewati
tanah basah dan menyapa hangat para petani disawah. Kadang kau singgah di
pingiran sungai kecil, merendam kakimu kedalamnya. dingin. Tak masalah, bau padi
yang khas dan sejuknya alam membuatmu tenang. Betah berlama-lama disana.
Itu
dulu, sebelum gedung pencakar langit itu di bangun. Dibangun di atas tanah
tempat bermainmu. Tempat dimana rumahmu dulu dibangun.
Semuanya
sudah musnah. Tak ada lagi hamparan sawah, sungai-sungai kecil, pohon rindang.
Tak ada. Semuanya sudah rata, rata dengan tanah. Yang tersisa hanya
gedung-gedung tinggi dan para penduduk yang berkeluh kesah. Rumah mereka
digusur, tanah mereka di rampas. Apa boleh buat. Kau hanya rakyat kecil, tak
berdaya.
Kau
memandang langit yang kemerah-merahan yang lambat laun di gusur oleh hamparan
gelap malam. Lampu-lampu mulai dinyalakan. Sinarnya berlomba-lomba menerangi
malam, walau sebetulnya bulan sudah cukup bagimu.
Kamu
sudah sampai dirumah.
Ke empat
anakmu berhamburan keluar setelah mendengar suaramu. Memelukmu erat. Pela. Hati-hati.
Jangan sampai melukai bayinya. Adik mereka.
Suami mu
tidak ada dirumah malam ini, mungkin sampai besok.
Kamu
tidak khawatir. Suamimu ada di pabrik mengatikan kerjamu.
Pekerjaan
yang sebetulnya tak perlu ia lakukan, toh kau tau itu sia-sia. Namun kau
biarkan, tidak ingin rasanya menghancurkan hati lelaki baik hati itu.
Apa
daya, Kamu dan suami tidak punya pilihan lain. Hanya dengan menukar waktu dan
tenaga demi upah. Upah minim yang untuk makan satu hari saja sebetulnya tak
cukup.
Tak ada
pilihan lain.
kau tak berpendidikan, sekolahmu tak sampai, dan
lagi kau harus membiayai ke empat anakmu, membesarkan mereka dan
menyekolahkannya.
Di tambah lagi dengan bayi yang masih dalam
rahimmu itu.
Malang
memang. Nasibmu, perempuan.



Komentar
Posting Komentar