Perempuan Bisa Apa ?
saya butuh waktu lama sebelum akhirnya memutuskan untuk
menulis ini. Bukan karena kehabisan ide tapi karena saya terjebak dengan tema
yang diberikan. Tema yang harus saya katakan aneh dan membingungkan, maksud
saya kenapa hal ini harus di pertanyakan?
Jika pertanyaan “perempuan bisa apa?”
dilontarkan ke pada saya, dengan gamblang saya akan menjawab. “ perempuan tidak
bisa apa-apa.”
Itu bukan sifat pesimis, itu kenyataan yang harus kita
terima bersama, bahwasahnya perempuan sekarang hanya tinggal duduk manis dengan
wajah penuh riasan dan mengenakan pakaian terbaik yang sudah di pilihkan
untuknya, entah ia nyaman dengan hal itu atau tidak. Perempuan tidak akan
memikirkan itu, asal dia terlihat cantik, itu sudah cukup. Toh itu sudah menggambarkan dirinya sebagai
perempuan.
Perempuan
di mata masyarakat adalah dia yang berdiam diri dirumah, mengerjakan pekerjaan
domestik seperti menyapu, memasak, mencuci dan merawat anak. Kita belum lagi membahas
standar kecantikan yang entah dibuat oleh perempuan itu sendiri ataukah demi
kesenangan lelaki?
Perempuan
yang cantik adalah dia yang berkulit putih, mulus, glowing, bibir merah
merona, dengan senyum menawan. Itu baru di bagian wajah kita belum membahas
tubuh rampingnya, gaya rambutnya, dan
model pakaiannya. Saya baru tau menjadi perempuan ternyata serempong itu. Entah
perempuan yang lain sadar atau tidak. Jawabanya tidak, perempuan tidak pernah
sadar akan kerempongan menjadi perempuan sesuai standar masyarakat. Mereka
sudah nyaman dengan itu semua. Bagi mereka itu sudah kodrat perempuan,
berdandan dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Sejak
kecil perempuan sudah di tanamkan nilai-nilai keperempuanan, dan norma-norma
keperempuanan sesuai standar masyarakat yang ada.
Sama
halnya masyarakat beragama, perempuan harus tinggal dirumah, menuruti kata
suami, mengurus rumah tangga, menutup aurat, menjaga pandangan dan tutur kata
dan masih banyak lainnya yang jelas mengatur perempuan sepenuhnya. Namun pernah tidak lelaki di atur seperti
itu?
Begitulah
perempuan sudah tidak bisa berpikir, tidak bisa apa-apa pula.
Saya
teringat tanggal 21 april mendatang diperingati sebagai hari kartini. Ada
berbagai macam cara memperingati hari Kartini, bisa dengan membaca puisi,
festival busana dan masih banyak lagi.
Memperingati hari itu bukan hanya sekedar dengan
mengigat sosok perempuan keturunan Jawa, berkulit matang sawo itu dan bukan pula dengan mengenakan kostum Kartini kemudian berfoto dengan caption
ala-ala perjuangan perempuan kemudian di upload ke media sosial . Cukup dengan tidak melakukan apa-apa.
Ada
satu hal yang membuat saya menyenangi R.A Kartini yaitu obsesianya terhadap
pendidikan perempuan Eropa kala itu. Perempuan Eropa yang cakap dan mampu
menyampaikan pendapatnya di muka umum. Harapan kartini perempuan pribumi
indonesia dapat memperoleh pendidikan yang layak dan bisa secakap perempuan
Eropa.
Di
zaman modern sekarang ini, perempuan sudah memperoleh pendidikan yang layak,
ditambah dengan kebijakan pemerintah yang mencanankan pendidikan 12 tahun yang
sebenarnya memberi beban kepada mereka yang tidak mampu secara ekonomi.
Kemudian
banyak pula dari mereka prempuan-perempuan
indonesia yang menempuh pendidikan diluar negeri(bagi yang mampu). Namun berbeda
halnya dengan perempuan dari kelas bawah, perempuan-perempuan itu masih harus
bergulat melawan stigma negatif terhadap perempuan dan keluar dari sistem
masyarakat patriarki.
Patriarki
adalah sistem yang mendominasi oleh lelaki. Sistem yang menjadikan lelaki
sebagai pemegang kuasa utama, baik diranah politik, sosial, dan ekonomi. Segala
sistem yang di bentuk hanya menyenangkan bagi pihak lelaki dan tidak perempuan.
Masih
ingat dengan Ni Putu Kariani seorang perempuan dari Bali yang mengalami tindak
kekerasan dalam rumah tangga oleh suaminya sendiri. Kariani menerima tindak kekerasan mulai dari kecil sampai
besar, misal tubuh disundut rokok, kepala dipukul sampai benjol (dan harus di
operasi) terakhir yang menjadi sorotan yaitu ketika kakinya dipotong oleh sang
suami.
Dari
keterangan pihak keluarga, Kariani sudah mengalami KDRT selama betahun-tahun.
Kariani sempat berinisiatif untuk bercerai dengan suaminya namun pihak keluarga
tidak menyetujuinya, justru malah meminta Kariani yang sudah babak belur untuk
bersabar.
Banyak
kiranya faktor penyebab timbulnya tindak KDRT ini, namun tak terlepas dari
sistem patriarki. Dimana lelaki dipandang sebagai pemengang kuasa dalam rumah
tangga, memiliki otoritas untuk mengatur, memilih, mengarahnkan bahkan
memerintah anggota keluarga. Sistem patriarki inilah yang menyebabkan lelaki
jadi semena-mena bertidak, seolah yang ia lakukan sudah benar.
Dalam
banyak kasus kekerasan maupun pelecehan terhadap perempuan yang akan di
salahkan pertama kali adalah perempuannya.
Dalam
masyarakat patriarki perempuan akan disalahkan, diaggap tak mampu membela
dirinya saat perlaku kekerasan menyerangnya. Oh tunggu dulu, bukankah dalam
masyarakat sendiri perempuan di gambarkan lemah, wajar bukan jika dia tidak
melawan? Terus kenapa malah disahlahkan? Aneh.
Kasus
Kariani merupakan salah satu dari sekian banyak kerugian perempuan dari sistem
patriarki. Jadi, perempuan bisa apa? Yah tidak bisa apa-apa.
Perempuan
sejak kecil sudah dididik seperti itu, tidak bisa apa-apa. Tidak bisa berpikir,
tidak bisa memutuskan, tidak memiliki
relasi kuasa dan bahkan tidak punya otoritas terhadap dirinya sendiri, lemah
dan tidak berdaya. Berbeda dengan lelaki,
lelaki dididik menjadi pemimpin, tidak cengeng, memiliki kuasa, kuat, rasional, Memiliki otoritas terhadap dirinya
dan bijak dalam memutiskan sesuatu.
Perempuan
tidak harus melakukan apa-apa, toh semuanya sudah diatur. Tidak perlulah susah payah
memperjuangkan keadilan bagaimanapun
perempuan akan disalahkan, paling-paling
disuruh sabar. Cukup diam, lakukan pekerjaanmu di ranah domestik atau bagi yang
belum menikah, silahkan bersolek sesuka hati kalian, berfoto sebanyak-banyaknya
dengan berbagai gaya, kemudian upload tanpa takut dilecehkan. Toh kalian di lecehkan,
diperkosa, bahkan dianiaya kalian juga yang bakalan disalahnya, dan anehnya
yang menyalahkan kalian banyak datang dari sesama perempuan sendiri. Miris.
Lebih
miris lagi, di era perkembangan teknologi seperti sekarang ini perempuan justru
menjadikan diri mereka sebagai objek orang lain. Mereka dengan mudahnya
memamerkan tubuh mereka di media sosial dengan tarian atau ekspresi yang justru
malah memancing para lelaki bejat untuk melecehkan mereka. Namun perempuan itu merasa
baik-baik saja, bahkan menikmati segala pujian lelaki terhadap riasan wajah,
kulit putihnya dan bahkan bentuk tubuhnya. Lelaki bisa melecehkan perempuan
tanpa menyentunya yaitu dengan menghayalkan tubuh si perempuan. Mereka
perempuan tidak sadar bahwa mereka tengah dilecehkan, memang perempuan tidak
bisa berpikir.
Perempuan
jaman sekarang lebih memilih Skincere-an, maskeran, luluran, meke upan
demi nampak putih nan glowing di hadapan lelaki. Pada dasarnya memang perempuan
yang memancing lelaki. Jadi untuk apa berjuang? Perempuan itu sendiri yang
menjadikan dirinya bodoh. Sia-sia lah perjuangan Kartini yang ingin menjadikan
perempuan indonesia maju dengan pendidikan, membuat mereka cakap lagi cerdas
dalam berpikir guna keluar dari belenggu patriarki yang merugikan.
Sia-sia
belaka perjuanganmu Kartini, maksud hati ingin meniru pendidikan kaum kulit
putih, yang terjadi perempuan malah meniru warna kulit kaum berkulit putih.
Namun
tidak bisa kita pungkiri lelaki ataupun perempuan mereka adalah manusia. Mereka
sama dimata Tuhannya, memiliki otak untuk perpikir, saling bertukar pikiran
dalam memecahkan sebuah masalah atau menentukan suatu pilihan, bahkan dapat
bekerja sama dalam ranah domestik maupun finansial.
Perempuan
bukan hanya sekedar objek, bukan hanya sebatas makhluk dapur semata. Perempuan
ada untuk dirinya, perempuan adalah manusia. Sebagaimana manusia dikutuk untuk
bebas, menentukan pilihan tanpa takut terpengaruh orang lain dan diperbudah
orang lain. Dan dari pilihan-pilihan itu menentukan otoritasnya.
Jika
ditanya “perempuan bisa apa?” Jawab,
“perempuan bisa melakukan apa saja, menjadi apa saja yang ia inginkan, karena
dia ada untuk dirinya.”
Tapi sayangnya, perempuan
tidak pernah memikirkan hal itu.



Komentar
Posting Komentar